<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246</id><updated>2012-02-16T18:32:42.853-08:00</updated><title type='text'>musyawarah buku</title><subtitle type='html'>di ruangan inilah saya bermusyawarah dengan buku.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-4946712884005562905</id><published>2011-05-04T08:59:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T09:51:43.646-07:00</updated><title type='text'>Laskar Mawar di Negeri Pasca-Harkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-haibVMzfdRI/TcF5yMNqUVI/AAAAAAAAAyM/8JfmXNbsRzw/s1600/army%2Bof%2Brose.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 211px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-haibVMzfdRI/TcF5yMNqUVI/AAAAAAAAAyM/8JfmXNbsRzw/s320/army%2Bof%2Brose.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602893314604552530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Palestina, jika seorang lelaki merasa diinjak harkatnya oleh (tentara) Israel, itu sudah cukup menjadi satu-satunya alasan untuk melakukan aksi bunuh diri. Tetapi jika seorang perempuan Palestina yang melakukan aksi bom bunuh diri, itu pasti bukan disebabkan oleh sebuah persoalan saja, melainkan karena injeksi jalinan persoalan yang berjejalan dengan begitu kompleksnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Army of Roses adalah buku yang dengan baik menjelaskan semua itu. Itulah sebabnya buku ini layak dibaca, tidak hanya oleh mereka yang tertarik dengan tema perlawanan bangsa Palestina, melainkan oleh siapa pun yang tertarik dengan wacana feminisme, lebih tepatnya feminisme dalam bentuknya yang "menyimpang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Farid Essack selalu memersembahkan karya-karyanya untuk sang ibu yang menurutnya mengalami tiga lapis penindasan (oleh patriarki, rasisme, dan kolonialisme), Barbara Victor menyiratkan betapa perempuan Palestina malah mengalami empat lapis penindasan: oleh kolonisasi Israel, nasionalisme Palestina, kultur patriarki, dan juga oleh (doktrin) agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan-perempuan Palestina ditekan oleh sistem patriarki yang ditopang oleh doktrin agama yang ditafsirkan secara patriarkis. Sistem itulah yang membuat perempuan Palestina hidup dalam serangkaian aturan sosial dan agama yang demikian ketatnya: jika berpendidikan terlalu tinggi ia akan dianggap abnormal, jika memandang lelaki ia akan dianggap tak punya malu, jika menolak menikah akan terancam dikucilkan dan diasingkan, jika ketahuan bersetubuh di luar nikah ia akan dianggap pelacur, jika hamil di luar nikah akan menjadi aib bagi seisi keluarga dan kampung dan bahkan bisa dibunuh oleh saudara lelakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tekanan itu membuat banyak perempuan Palestina (terutama yang cerdas dan merasa punya keahlian serta keterampilan) merasa tak cukup punya masa depan. Perlawanan terhadap Israel tidak akan terlalu banyak mengubah keadaan. Menang atau kalah mereka akan tetap tertindas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja kisah para perempuan pelaku bom bunuh diri yang dipaparkan Barbara. Wafa Idris adalah perempuan yang dicerai suaminya karena dianggap mandul. Selain dipandang remeh keluarga, Wafa juga dituding tak bisa membantu Palestina dengan melahirkan anak laki-laki yang diperlukan bagi perjuangan. Darine Abu Aisya adalah perempuan yang harus memendam cita-citanya karena dipaksa kawin ketika ia sedang bersemangat mengejar cita-cita menjadi seorang akademisi. Ayat al-Arkhas adalah perempuan yang sangat mencintai ayahnya tetapi ayahnya dikucilkan karena dianggap sebagai mata-mata Israel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah lara sosial-kultural yang mereka dera. Dan mereka beroleh sebuah jalan keluar yang esktrem: melakukan aksi bom bunuh diri. Dengan melakukan itu, Wafa, Darine, dan Ayat bisa kembali memulihkan harkat tidak hanya dirinya saja, melainkan juga keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa-bangsa Arab memang sangat menjunjung tinggi harkat. Penegakan harkat itu pula yang disebut Ibn Khaldun sebagai katalisator tumbuh dan rubuhnya sejumlah peradaban Islam klasik. Ketika harkat telah rusak, akan muncul rasa frustasi yang berkarat. Ini akan melahirkan apa yang disebut Akbar S. Ahmed (2004) sebagai "dunia pasca-harkat": dunia yang dipenuhi aksi kekerasan sebagai satu-satunya jalan memulihkan harkat yang telah terkoyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan jelinya, para pemimpin gerakan perlawanan intifadhah (Hamas, Jihad Islam atau Fatah) berhasil mengeksplorasi jejalin persoalan perempuan yang kompleks itu untuk diubah menjadi keuntungan yang lebih positif bagi perjuangan nasionalisme Palestina dan bahkan untuk menaikkan pamor dan posisi tawar masing-masing kelompok perlawanan itu di hadapan kelompok perlawanan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika organisasi Fatah pimpinan Arafat mulai kehilangan pamor karena kegagalannya dalam perundingan dengan Israel, sementara organisasi perlawanan garis keras makin naik pamornya karena aksi-aksi bunuh diri yang heroik, al-Fatah (lewat sayap militernya Brigade al-Aqsa) menemukan senjata perlawanan yang lebih heroik dan menarik perhatian dunia: bom bunuh diri yang dilakukan perempuan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamor Fatah dan Arafat kembali pasang. Arafat sendiri yang membaptis para martir perempuan ini dengan sebutan "Amry of Rose", "Laskar Mawar". Dalam kata-kata Arafat sendiri: "You are my 'army of roses' that will crush Israeli tanks." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak itu, organisasi-organisasi perlawanan mulai merekrut perempuan-perempuan Palestina untuk dijadikan syahidah. Dengan entengnya, pemuka-pemuka agama Palestina, misalnya Syekh Yasin, mengubah fatwa yang sebelumnya melarang perempuan untuk ikut berjihad. Mereka bahkan berkampanye bahwa perempuan yang mau berjihad akan sederajat dengan laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya mereka tidak akan merasakan indahnya persamaan derajat karena persamaan itu baru dimulai dan berakhir pada waktu yang sama: ketika bom yang mereka ledakkan menghancurkan dirinya. Inilah bentuk feminisme yang menyimpang itu. Ironisnya, perlakuan tidak sama harus tetap diterima ketika mereka telah mati. Keluarga yang anak perempuannya mati dalam aksi bom bunuh diri hanya mendapat tunjangan setengah dari yang biasa diberikan pada pelaku laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menelusuri kisah hidup para perempuan yang melakukan aksi bunuh diri, Barbara Victor sekan hendak menunjukkan bahwa apa yang ia paparkan bukan melulu himpunan asumsi teoritik, melainkan (sedikit banyak) juga mempunyai dasar empirik yang bisa diverivikasi siapa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini akhirnya juga menjadi penegasan yang kesekian atas adanya dua model insting seperti yang dikatakan Freud: insting hidup (eros) dan insting kematian (tanatos). Eros akan membawa manusia untuk selalu melindungi diri (preservase) dan membela diri (defence), sedangkan tanatos membawa manusia pada perusakan diri, tindakan yang menghancurkan, dan menyakiti. Dalam hal perempuan-perempuan Palestina, dua insting itu berujung pada sebuah jalan kematian yang atraktif, indah, sekaligus konyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Barbara Victor berhasil menyajikan semuanya dalam sebuah reportoar yang detil, hidup sekaligus menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Army of Roses &lt;br /&gt;Penulis : Barbara Victor &lt;br /&gt;Penerjemah : Anna Farida &lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung &lt;br /&gt;Cetakan : I, September 2005 &lt;br /&gt;Halaman : xlii + 404 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-4946712884005562905?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/4946712884005562905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=4946712884005562905&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/4946712884005562905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/4946712884005562905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2011/05/laskar-mawar-di-negeri-pasca-harkat.html' title='Laskar Mawar di Negeri Pasca-Harkat'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-haibVMzfdRI/TcF5yMNqUVI/AAAAAAAAAyM/8JfmXNbsRzw/s72-c/army%2Bof%2Brose.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-8084420454764992743</id><published>2011-04-12T08:00:00.000-07:00</published><updated>2011-04-12T08:09:13.190-07:00</updated><title type='text'>Mistifikasi Novel Sejarah</title><content type='html'>Novel sejarah bisa menjadi “sumber sejarah”. Tetapi tidak semua novel sejarah bisa dijadikan “dokumen sejarah” seperti yang diharapkan Misbahus Surur dalam esai “&lt;a href="http://www.goodreads.com/topic/show/185606-mengais-realitas-dalam-novel-sejarah"&gt;Mengais Realitas dalam Novel Sejarah&lt;/a&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan utama yang ingin saya ajukan terhadap esai Misbahus Surur (MS) terletak pada pengabaiannya terhadap pertanyaan mendasar: Dalam situasi apa dan dengan cara apa sebuah novel sejarah bisa diacu sebagai dokumen sejarah atau sumber sejarah apalagi buku teks sejarah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah teks/dokuman bisa dianggap sebagai “dokumen sejarah” jika (dan hanya jika) dokumen itu berkaitan langsung dengan sebuah peristiwa sejarah. Naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik yang dibubuhi paraf Soekarno-Hatta bisa disebut sebagai “dokumen sejarah”. Ilmu sejarah menyebut dokumen macam itu sebagai “sumber primer”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran yang memuat berita pembacaan proklamasi juga masuk kategori ini, sepanjang berita itu ditulis oleh wartawan yang menyaksikan peristiwa itu secara langsung. Sumber primer juga bisa merujuk pada semua bahan yang ditulis atau dikatakan oleh seseorang yang menyaksikan langsung peristiwa pembacaan proklamasi. Buku yang mencantumkan copy/repro naskah proklamasi yang asli tak bisa disebut dokumen sejarah atau sumber primer. Ia paling banter hanya menjadi “sumber sekunder”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, serial novel “Gajah Mada”-nya Langit Kresna Hadi (yang disebut dalam esai Misbahus Surur) tidak bisa diperlakukan sebagai dokumen sejarah, hal yang sama juga bisa dilekatkan pada roman “Arus Balik” atau “Arok Dedes” atau “Bumi Manusia”-nya Pramoedya Ananta Toer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika pun ingin mencari karya sastra yang bisa dijadikan sebagai dokumen sejarah mengenai Gajah Mada, pastilah itu merujuk pada “Negarakrtagama” yang memang menjadi rekaman langsung Sutasoma ihwal masa pemerintahan Hayam Wuruk. Untuk menyusunnya, Sutasoma bahkan ikut turnoi Hayam Wuruk ke beberapa wilayah mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengandaian yang sama bisa diajukan pada novel “Di Tepi Kali Bekasi”-nya Pramoedya, novel dengan setting waktu yang dialami langsung oleh Pramoedya; satu privilese yang memungkinkan Pram –setidaknya—bisa mengerti suasana dan psikologi zaman di mana setting “Di Tepi Kali Bekasi” digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Tepi Kali Bekasi” bisa memberi gambaran mengenai kehidupan para pemuda yang menjadi tentara republik, terutama lewat tokoh utama bernama Farid. Kita bisa mendapatkan gambaran semangat para pemuda nasionalis itu serta seperti apa kehidupan sehari-hari mereka, termasuk meraba gaya mereka berpakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu saja tidak cukup. Untuk mengetahui secara akurat, diperlukan malacak kesaksian orang-orang yang mengalaminya langsung. Untuk memertajam akurasi, kita mesti membongkar-bongkar koran-koran pada masa itu, yang besar kemungkinan –misalnya—ada yang pernah memajang potret belasan anak muda yang tergabung dalam kesatuan tentara republik sedang berbaris rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pun sebuah novel dijadikan sebagai sumber sejarah dalam sebuah karya historiografi, data yang digunakan pun biasanya tidak menyangkut soal detail mengenai keterangan tempat, waktu, atau kronologi peristiwa (5W+1H) melainkan digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesadaran zaman atau semangat zaman yang sedang tumbuh pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ben Anderson sering menggunakan novel-novel sebagai latar untuk menjelaskan perubahan dan/atau semangat zaman yang sedang berlangsung pada periode sejarah tertentu, misalnya novel “No Moli Tangere”-nya Jose Rizal untuk menangkap situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme Filipina seperti yang ditunjukkan dalam karya klasiknya, “Immagined Communities”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel “Student Hidjo”-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern. Mrazek akhirnya berhasil melahirkan “Engginers of Happyland”, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel yang mampu menggambarkan semangat dan situasi sebuah zaman (dan bukan akurasi 5W+1H-nya) itulah yang membuat kita memungkinkan mendapat gambaran (bukan akurasinya) mengenai dunia priyayi di lingkungan kraton bukan hanya dari disertasinya Prof. Darsiti Soeratman, tapi bisa pula dari prosa liris “Pengakuan Pariyem”-nya Linus Suryadi. Hal sama berlaku, misalnya, untuk mengetahui situasi dan semangat zaman (bukan akurasi 5W+1H-nya) pada periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan kita tak hanya bisa mengandalkan disertasinya George Mc. Turner Kahin, tetapi bisa pula dari roman indah “Burung-burung Manyar”-nya Romo Mangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal tertentu dari “Pengakuan Pariyem” atau “Burung-burung Manyar” atau “Di Tepi Kali Bekasi” bisa dijadikan sumber sejarah, tetapi sama sekali tak bisa dijadikan dokumen sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehati-hatian macam itu penting bukan untuk meneguhkan supremasi ilmu sejarah sebagai sumber paling otoritatif mengenai masa silam, tetapi justru untuk (1) tidak sembrono memukul rata semua novel sejarah bisa dijadikan sebagai sumber sejarah atau dokumen sejarah, (2) menempatkan novel sejarah pada proporsinya dan (3) tidak memberi beban yang tidak semestinya pada novel sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan novel sejarah dan semua halaman dari sebuah novel sejarah bisa digunakan sebagai sumber sejarah sama berharap setiap novelis menulis dengan tingkat akurasi data sejarah yang presisi; satu beban yang tidak mungkin dan tidak wajib dijawab para novelis dan lebih lebih tepat disorongkan ke meja kerja para sejarawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset sejarah para novelis dilakukan untuk membangun karakter, percakapan, adegan dan konflik-konflik sehidup mungkin dan semeyakinkan mungkin. Di tangan novelis, data-data sejarah diperlakukan sebagai bahan mentah yang diolah sedemikian rupa dengan mengerahkan imajinasinya yang (boleh saja) tanpa (pem)batas(an). Novelis tak terikat fakta fakta sejarah. Semuanya dapat berupa fiksi. Namun dalam menyusun cerita, novelis dituntut membangun logika cerita (yang bisa tak ada hubungannya dengan logika aristotelian). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan atau novelis sama-sama membuat konstruksi cerita yang koheren. Bedanya, sejarawan menunjuk kepada hal hal yang memang pernah ada, sementara novelis bisa dan sah-sah saja meng¬gambarkan sesuatu yang tidak pernah ada. Sejarawan wajib tidak menambah-nambahi, sedang novelis bebas menciptakan apa, kapan, siapa dan di mananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bumi Manusia”-nya Pramoedya Ananta Toer bisa menjadi kanon sastra dan bahkan menggoncang diskursus sejarah pergerakan Indonesia bukan karena akurasinya memaparkan biografi Minke sebagai protonima karakter Tirtoadisoerjo, melainkan karena keberhasilan Pramoedya menghidupkan karakter Minke dalam sebuah panggung fiksi yang tidak kalah hidup dan memikatnya. Pendeknya, daya goncang tetralogi Buru pada diskursus sejarah pergerakan Indonesia lebih karena karya itu berhasil secara literer dan suksesk menggugah pembaca untuk memertanyakan kembali narasi sejarah yang selama ini dianggap baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sanalah gelombang rasa ingin tahu mengenai kehidupan dan peran Tirto yang sebenarnya bermunculan. Dari situlah diskursus sejarah pergerakan Indonesia yang hampir tak pernah menyebut-nyebut peran Tirto seperti digoncang dan pelan tapi pasti nama Tirtoadisoerjo mencuat ke dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia sebagai seorang protagonis yang tak bisa disepelekan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengandaian yang sama bisa kita ajukan –misalnya—kepada novel “Uncle Tom’s Cabin” karya Harriet Beecher Stowe yang membangkitkan gerakan anti perbudakan di Amerika yang berimbas pada Civil War. “Uncle Tom’s Cabin” bisa sedemikian berpengaruh bukan karena akurasi pemerian Stowe terhadap kehidupan para budak, melainkan karena Stowe melahirkan novel yang begitu berhasil membuat para pembacanya terharu dan terenyuh membayangkan kehidupan penuh derita seorang budak bernama Paman Tom yang dimiliki petani kaya bernama Arthur Shelby. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa –misalnya—dwilogi roman “Pacar Merah Indonesia”-nya Matu Mona alias Hasbullah Parinduri yang memaparkan sepak terjang Tan Malaka tak pernah memancing ribuan orang untuk membacanya. Dwilogi “Pacar Merah Indonesia” tidak terlalu berhasil secara literer dan tidak terlalu menggugah pembacanya, setidaknya saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matu Mona lebih sibuk menyusun kronik perjalanan Tan Malaka ketimbang menciptakan karakter-karakter penunjang lain yang hidup (macam Robert Suurhof atau Trunodongso dalam tetralogi). Kisah melankolik antara Tan Malaka dengan seorang perempuan Thailand tidak semenggugah kisah cinta Minke dengan Annelies atau Ang San Mey. Diskusi politik antara Tan Malaka dengan tokoh PKI macam Musotte (Musso) atau Alminsky (Alimin) tidak sehidup percakapan Minke dengan Jean Marais sewaktu memperdebatkan pilihan menulis dalam bahasa Melayu atau Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran jika tetralogi Buru bisa “mendongkrak” sosok Tirtoadisoerjo dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia, lebih dari yang bisa dilakukan tulisannya Soebagjo IN, disertasinya Ahmat Adam atau disertasinya Takashi Shiraishi. Sementara publik dan media lebih berbondong-bondong menoleh kembali pada Tan Malaka berkat disertasinya Harry Poeze, bukan oleh dwiloginya Matu Mona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misbahus Surur tidak berlebihan sewaktu (dalam paragraf terakhirnya) menyebut novel sejarah berpeluang menjadi wacana tandingan dari narasi sejarah resmi. Tetapi, seperti yang sudah saya tunjukkan, hanya novel sejarah yang memukau secara literer dan mampu menggugah ribuan pembaca sajalah yang bakal mampu menggoncang diskursus sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ, perdebatan ihwal seberapa akurat penggambaran historis sebuah novel sejarah menjadi hal sekunder, jika pun akurat, anggap saja itu sebagai bonus bagi pembaca dari sebuah negeri yang narasi sejarahnya boyak di sana-sini. Harapan bahwa novel sejarah bisa maujud sebagai sumber sejarah menjadi perkara nomer dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas seorang novelis bukan untuk mengejar akurasi data sejarah agar karyanya bisa diacu sebagai sumber sejarah, melainkan untuk melahirkan novel yang segenap-genapnya berhasil secara literer dan mampu mendongkrak daya gugah pembacanya untuk memertanyakan narasi sejarah dominan yang (mungkin) penuh dusta dan tipu daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada novel sejarah yang memenuhi kualitas literer di atas rata-rata sajalah kita bisa berharap, bukan kepada novel yang punya akurasi data sejarah namun jongkok secara literer. Jika itu yang terjadi, novelis tersebut mungkin lebih berbakat menjadi sejarawan ketimbang novelis. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-8084420454764992743?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/8084420454764992743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=8084420454764992743&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/8084420454764992743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/8084420454764992743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2011/04/mistifikasi-novel-sejarah.html' title='Mistifikasi Novel Sejarah'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-346761455381302044</id><published>2010-12-10T09:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-10T09:48:43.035-08:00</updated><title type='text'>Hikayat Kekejian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/TQJnzQiTxbI/AAAAAAAAAxU/yDZbbh8aMQY/s1600/gulag.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/TQJnzQiTxbI/AAAAAAAAAxU/yDZbbh8aMQY/s320/gulag.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549111821183731122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kekejian yang paling brutal dan massal berhasil mengantarkan sebuah kata masuk ke dalam kamus sebagai sebuah kata baku. Kata itu, "Gulag", mengingatkan umat manusia kepada abad-20 sebagai zaman yang sangat mematikan, yang di dalamnya jutaan orang terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulag (singkatan dari Glavnoe upravlenie ispravitelno-trudovykh lagerei), mulai dekade 1930-an, menjadi kamp kerja paksa di mana jutaan orang--lelaki, perempuan, tua maupun muda--yang dituduh sebagai musuh negara dijebloskan. Gulag memainkan peran sentral dalam praktik pemenjaraan dan kerja paksa massal di Sovyet dalam periode kepemimpinan Joseph Stalin. Lebih dari sejuta orang dikirim ke sana, dan sekitar 900 ribu di antaranya meninggal di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulag ditulis oleh Solzhenitsyn mulai 1953, beberapa waktu setelah ia dipulangkan dari kamp ini. Ya, Solzhenitsyn sendiri adalah korban Gulag. Apakah ia berkhianat dan menjadi mata-mata sehingga mesti diasingkan? Sama sekali tidak. Ia ditangkap hanya karena pernah berkorespondensi dengan seorang teman sekolahnya. Ironisnya, Solzhenitsyn ditangkap saat menjadi perwira Sovyet yang sedang bertugas untuk misi mengepung tentara Jerman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari proses penangkapan Solzhenitsyn itu, teranglah bahwa Gulag adalah neraka yang bisa menelan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Jangankan seorang yang nyata-nyata menjadi agen asing, seorang perwira dan bahkan pejabat penting pun bisa saja dijebloskan ke sana. Dengan membaca Gulag, kita jadi tahu betapa Gulag dioperasikan dengan sebuah sistem total, yang menggabungkan semua teknik penangkapan, interogasi dan penyiksaan, dari yang paling halus dan rapi hingga yang paling keji dan merontokkan mental dan fisik sekaligus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh yang dipaparkan Solzhenitsyn. Pyotor Ivanish mendadak diberi dua tiket untuk berlibur. Dengan kegembiraan yang bukan kepalang, ia dan istrinya berangkat lewat stasiun. Di stasiun, suami-istri itu didatangi seorang yang rapi, kharismatik, dan sopan sembari mengaku sebagai teman lama. Orang itu menyalami istri Ivanish dengan hangat seraya meminta izin untuk mengajak suaminya berbincang barang dua-tiga menit. Sang istri mengiyakan saja dan membiarkan suaminya digandeng pergi... untuk selamanya. Itu semua terjadi di siang bolong, di tengah stasiun yang ramai, tanpa sedikitpun kekerasan dan bentakan. Sedangkan penangkapan N.M. Vorabyev mewakili model penangkapan dengan kekejian. Vorabyev ditangkap ketika sedang menjalani operasi perut. Saat itu juga ia diseret dalam keadaan tidak sadar dan berlumuran darah (lihat hlm. 3-25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahanan dihajar habis-habisan selama berhari-hari atau ditahan berhari-hari tanpa diizinkan tidur, padahal ia duduk di sebuah sofa yang sangat empuk. Jika matanya mengatup, sepatu lars penjaga akan menghajar tulang keringnya. Beberapa tahanan ditelanjangi dan dimasukkan dalam sebuah kotak. Selama berjam-jam, beberapa prajurit mengintip kebugilannya sembari bergunjing dan tertawa cekikikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat karya puncaknya ini, Solzhenitsyn berhasil membongkar semua praktik kekejian dan teror yang terjadi di Gulag. Ia berhasil melakukannya bukan semata karena pernah ditahan selama 8 tahun di sana, melainkan juga karena didukung ratusan korespondensi (laporan, surat, testimoni, memoar, catatan harian hingga obrolan sehari-hari) dengan 227 orang eks-Gulag yang sebagian masih disembunyikan identitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati kaya informasi ihwal kekejian rezim komunis Sovyet, Gulag pada dasarnya diterbitkan bukan untuk membongkar kejahatan politik. Gulag ditulis Solzhenitsyn untuk mengingatkan umat manusia kepada sebuah prinsip moral atau, dalam kata-kata Solzhenitsyn sendiri, "sebuah garis pemisah antara baik dan buruk (yang) melintas di tengah semua hati manusia." Gulag, dengan demikian, bisa dibaca sebagai buku yang kaya dengan dimensi politik yang ditulis dari sudut pandang moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Gulag dari sudut pandang moral berarti menyadari bahwa kekuasaan bisa digunakan dengan penuh kebajikan ataupun sarat kekejian. Tapi, bahkan kekuasaan yang paling keji sekalipun tetap tidak bisa total memadamkan api spiritualitas. Akan banyak orang yang menyerah dan mati, tapi akan selalu ada profil yang teguh dan terus menyala semangatnya. Profil macam ini dihadirkan oleh Solzhenitsyn dengan nama Ivan Denisovich lewat fiksi terbaiknya, Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich. Membangkitkan spirit, inilah tujuan yang ingin disasar Solzhenitsyn ketika menulis Gulag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Gulag terbit dalam tiga volume dengan tebal mencapai 1.800-an halaman. Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, Gulag yang supergemuk dirampingkan oleh Prof. Edward E. Ericson, Jr. Buku ini adalah versi ringkas Gulag tadi, tanpa mengubah struktur dan gaya tulisan aslinya, dan terbit di bawah pengawasan Solzhenitsyn sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terbit di luar negeri, khususnya di negeri Blok Barat, Gulag berhasil meruntuhkan kewibawaan Sovyet yang dari luar tampak megah karena berhasil mendongkrak sistem produksi, persenjataan, dan ilmu pengetahuan (Anda ingat Sputnik, kan?). Gulag menjadi, dalam kata-kata George F. Kennan, "Dakwaan terbesar dan paling dahsyat terhadap sebuah rezim politik yang... dipastikan akan memacetkan mesin propaganda Sovyet... dan membuat mesin itu makin lambat bekerja sampai tidak bisa berkutik lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah pengakuan publik betapa Solzhenitsyn, lewat Gulag, punya andil dalam melempangkan jalan bagi kehancuran Sovyet.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-346761455381302044?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/346761455381302044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=346761455381302044&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/346761455381302044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/346761455381302044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2010/12/hikayat-kekejian.html' title='Hikayat Kekejian'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/TQJnzQiTxbI/AAAAAAAAAxU/yDZbbh8aMQY/s72-c/gulag.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-7696497240652138737</id><published>2010-09-21T11:57:00.000-07:00</published><updated>2010-09-21T12:15:47.872-07:00</updated><title type='text'>Semaoen Menoentoen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/TJkBMF-ryoI/AAAAAAAAAw4/2bAL4hhpIJU/s1600/penuntun_kaum_buruh.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 165px; height: 249px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/TJkBMF-ryoI/AAAAAAAAAw4/2bAL4hhpIJU/s320/penuntun_kaum_buruh.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519444125594405506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Seorang bocah beperawakan pendek, bercelana panjang, dan berkemaja pendek, semua serba putih, dengan gesitnya menghidangkan air teh. Setelah meletakkan gelas-gelas, ia berdiri tegak dan dalam bahasa Belanda yang lancar mengucapkan selamat datang…. Setelah itu ia membungkuk seperti seorang pengawal kerajaan di istana-istana Eropa dan memerkenalkan namanya: Namaku Semaeon….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, 1988: hlm. 239)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para buruh Indonesia kembali bangkit dari kuburnya. Dipicu oleh revisi Undang-undang Ketenagakerjaan yang dinilai terlampau doyong ke pihak pengusaha, para buruh berbareng bergerak dalam arus yang mengumbalang ruas jalan-jalan protokol di kota-kota besar, dengan mengusung satu isu yang sama, dan dengan eskalasi yang terus membubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman mereka untuk melakukan mogok nasional jika para buruh tak dilibatkan dalam proses revisi Undang-undang pemicu sumbu itu ditanggapi serius. Presiden bahkan mengundang perwakilan mereka ke istana. Hasilnya jelas: tuntutan mereka agar revisi Undang-undang Ketengakerjaan di bahas ulang dengan melibatkan para buruh pun kabul. Ancaman mogok nasional pada 1 Mei 2006 yang bertepatan dengan Hari Buruh pun akhirnya urung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semaoen, seorang ektivis pergerakan yang bisa disebut sebagai salah satu bapak moyang gerakan buruh di negeri ini, pasti senang menyaksikan soliditas kaum buruh dalam hal isu terakhir ini. Apa yang ia harap dan bayangkan ketika menulis brosur Penoentoen Kaoem Boeroeh di penjara Wirogunan Yogyakarta pada 1919, sedikit banyak sudah menuai hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Semaoen tak perlu menunggu puluhan tahun kemudian untuk menyaksikan para buruh bisa berbareng bergerak, isitilah yang sering ia pakai untuk memerikan satu situasi di mana para buruh bisa bergerak dan berjuang dalam satu barisan yang solid. Semasa ia menjadi pemimpin Sarekat Islam Semarang, yang lazim dikenal sebagai Sarekat Islam Merah, Semaoen sudah berhasil mengorganisir belasan pemogokan dan demonstrasi kaum buruh, yang beberapa di antaranya menuai hasil baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai judulnya, Penoentoen Kaoem Boeoroeh (selanjutnya disebut Peneoenton saja) memang diniatkan betul-betul untuk dijadikan panduan, semacam buku ajar, untuk kaum buruh di Hindia Belanda yang berniat mendirikan serikat buruh (vakbond).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneoenton terdiri atas 10 bab. Semaoen membuka buku itu lewat sebuah analisis ekonomi politik Hindia Belanda dan dunia secara ringkas dan padat lewat sebuah bab yang dijuduli, Penjebab di Indonesia Ada Perkoempoelan. Semaoen kemudian melaju dengan memerikan 3 tipe perkumpulan buruh yaitu perkumpulan politik yang berorientasi perubahan struktur politik, koperasi yang bertujuan (terutama) mensejahterakan ekonomi kaum buruh dan serikat kerja yang sengaja dibuat untuk membangun solidaritas dan menegakkan kekuatan kaum buruh, baik secara ekonomi maupun politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada dua bab awal Semaoen seperti memerankan seoran analis sosial, pada bab tiga-lah Semaoen hadir sebagai “guru kaum buruh”. Sejak bab itulah, hingga bab 9, Semaoen secara rigid dan mendetail memberikan panduan ihwal bagaimana caranya mendirikan serikat kerja. Di sini Semaoen hadir dengan aura betul-betul sebagai seorang guru kaum buruh yang mengajar bukan dengan teori, melainkan dengan pengalaman seorang pemimpin buruh yang sudah kenyang asam garam medan perlawanan kaum buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam panduannya ini, Semaoen bahkan secara telaten memberi contoh konkrit dari apa yang sedang ia paparkan. Jangan heran jika mulai bab tiga hingga bab 9, Peneoenton kaya oleh contoh-contoh. Ketika ia berbicara tentang maksud didirikannya serikat kerja, ia mencontohkan bagaimana redaksi maksud pendirian sebuah serikat dalam berbaris-baris kalimat yang bisa dipakai dalam statuten (Anggaran Dasar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terus berulang tiap kali Semaoen memaparkan pokok-pokok penting daripendirian sebuah serikat kerja, dari mulai bagaimana membuat rumusan asas, bentuk organ, penyusunan kepengurusan, jenis-jenis ikhtiar yang bisa dipakai, hingga teknis pengelolaan uang hasil iuran anggota. Ia juga memberi contoh bagaimana sebuah kartu anggota serikat kerja disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang menguraikan jenis-jenis ikhtiar yang bisa dilakukan serikat kerja dalam bab berjudul Ikhtiar, Alat dan Senjata Vakbond, Semaoen memaparkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh sebuah serikat kerja sewaktu hendak menggelar sebuah demonstrasi, aksi boycott (boikot) dan pemogokan. Ketika itulah ia sudah berbicara tentang arti penting “kas mogok” yang bisa dimaksimalkan untuk membantu keuangan anggota serikat yang melakukan mogok maupun yang dipecat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paragraf terakhir bab itulah Semaoen menuliskan kalimatnya yang kemudian menjadi mayshur: “Pemogokan adalah senjata kaum buruh yang (paling) tajam, tetapi kalau kaum buruh kurang pintar memakainya maka senjata itu bisa membunuh kaum buruh sendiri (senjata makan tuan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang segera membikin takjub tiap kali orang membaca Semaoen adalah betapa di usia yang masih sangat belia ia sudah menjadi salah satu pemimpin pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memulai karirnya dengan menjadi anggota aktif Sarekat Islam (SI) afdeling (cabang) Semarang pada usia 13 tahun. Perkenalannya dengan Snevliet, simbah kaum kiri di Hindia Belanda, pada usia 15 tahun membuat laju Semaoen sebagai propagandis makin kencang. Tak lama dari perkenalannya itulah ia sudah menjadi sekretaris ISDV, organ pergerakan radikal yang kebanyakan diisi oleh orang Belanda dan Indo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu capaian paling spektakuler dari Semaoen adalah ia sukses “merebut” (SI) Semarang dengan menjadi komisaris pada usia 18 tahun, menggantikan Mohammad Joesoef yang merupakan wakil generasi tua SI. Jalan masuk Semaoen ke puncak tertinggi SI Semarang terjadi setelah ia terlibat polemik yang begitu keras dengan Joesoef soal bagaimana menyikapi penangkapan Marco Kartodikromo. Semaoen berada di sisi ekstrim dengan menyarankan agar SI aktif secara terang-terangan dalam membela Marco (sikap ini didukung mayoritas anggota SI Semarang), berkebalikan dengan Josoef yang condong menjura-jura dan memohon-mohon pada eyang Gubernur Jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setalah ia sukses merebut kepemimpinan SI Semarang dari angkatan tua, Semaoen langsung membawa SI Semarang tancap gas: menjadi cabang SI paling radikal yang selain progresif dan paling terang benderang menyatakan perang terhadap kolonialisme Belanda. Di bawah suluh ide-ide sosialisme yang terang-terangan merujuk pada Marx itulah, Semaoen menjadi aktor terpenting yang membikin SI Semarang dicap sebagai SI Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1919 Semaoen akhirnya dijebloskan ke penjara Wirogunan Yogyakarta. Pemicu utamanya karena ia menerjemahkan tulisan Snevliet, Kelaparan dan petonedjoekan Koeasa. Tapi sesungguhnya, pemenjaraan itu sudah direncanakan sejak Semaoen dianggap sebagai propagandis yang berada di balik serangkaian pemogokan buruh selama 1918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerbitkan Penoentoen Kaoem Boeoroeh, Semaoen telah mendahului Tan Malaka, Tjokroaminoto, Haji “Merah” Misbach, Soekarno atau Hatta dalam dua hal sekaligus: (1) mengikhtiarkan membumikan ide-ide sosialisme dengan Marx sebagai acuan utama dalam struktur pengetahuan dan kesadaran kaum pergerakan dan (2) dalam hal mencari sebentuk penyesuaian ide-ide itu untuk penduduk Hindia Belanda yang punya struktur sosial, ekonomi, politik dan mental yang berbeda dengan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kaum sosialis Belanda seperti Sneevliet, Baars, atau Bergsma yang lebih mengedepankan hal-hal yang prinsipil dari ideologi sosialisme dan agar dipraksiskan secara konsisten dengan prinsip dasar ideologi itu, Semaoen (karena menyadari ide sosialisme belum banyak diketahui dan dimengerti) lebih menitikberatkan pada upaya untuk memberi pemahaman rakyat Hindia-Belanda dan para aktivis pergerakan tentang ide-ide sosialisme dan mengupayakan pemahaman itu dengan cara yang lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penoentoen, seperti yang sudah dipaparkan secara singkat di awal, yang lebih dipenuhi contoh-contoh ketimbang teori-teori yang sofistikatif, adalah upaya Semaoen, yang dilakukan semampu ia bisa dan dengan berbuntal-buntal keterbatasan seorang anak muda, untuk memberi pengertian tentang apa arti sosialisme. Dengan memberi contoh bagaimana menyusun statuten (anggaran dasar), asas, cita-cita dan model perjuangan dalam bentuk konrit berupa redaksi kata-kata yang sudah diselipi dengan kosa kata dan konsep dasar sosialisme, Semaoen telah berupaya merealisasikan hal pertama tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara poin kedua yang menjadi upaya Semaoen bisa diendus jejaknya dari bagaimana Semaoen, lewat Penoentoen itu, memberi titik tekan bahwa perjuangan kaum buruh, tentu juga perjuangan sosialisme, adalah dalam rangka mencapai penghidupan yang selamat pikiran maupun badan, singkatnya menuju kesmepurnaan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak perlu diherankan jika dalam Penoentoen Tuhan Yang Maha Esa masih sering ditemukan dalam sejumlah paragraf; dan dengan itulah Semaoen mendahului (berhasil atau tidaknya usaha Semaoen ini adalah soal lain) Tjokroaminoto, Misbach, Seokarno dan Hatta yang kemudian hari mencoba mengawinkan sosialisme yang berasal dari Eropa dengan struktur keyakinan religius-mitis bangsa Indonesia, dan juga mendahului Tan Malaka, yang juga mencoba “mengawinkan” secara kreatif sosialisme-komunisme dengan kondisi kha Indonesia dengan cara yang berbeda banyak dengan tokoh lain yang disebutkan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu mesti diberi satu catatan penting: Semaoen sudah melakukannya pada usia belasan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruh yang Bergerak,&lt;br /&gt;Semaoen yang Menuntun&lt;br /&gt;Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boeroeh dari Hal Vakbond-vakbond&lt;br /&gt;Penulis: Semaoen&lt;br /&gt;Penerbit: Anonim, Semarang&lt;br /&gt;Cetakan: I, Mei 1920&lt;br /&gt;(Ini edisi pertamanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boroeh dari Hal Sarekat Sekerdja&lt;br /&gt;Penulis: Semaoen&lt;br /&gt;Penerbit: Soeloeh Sosialis 2, Pesindo, Surakarta&lt;br /&gt;Catakan: I, 1946&lt;br /&gt;(Ini edisi yang terbit pasca proklamasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boroeh&lt;br /&gt;Penulis: Semaoen&lt;br /&gt;Penerbit: Jendela, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2001&lt;br /&gt;Halaman: xiii + 113 halaman&lt;br /&gt;(Ini edisi abad 21. Cover di atas kuambil dari edisi terakhir ini)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-7696497240652138737?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/7696497240652138737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=7696497240652138737&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/7696497240652138737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/7696497240652138737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2010/09/semaoen-menoentoen.html' title='Semaoen Menoentoen'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/TJkBMF-ryoI/AAAAAAAAAw4/2bAL4hhpIJU/s72-c/penuntun_kaum_buruh.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-4668595184272705792</id><published>2010-09-20T01:24:00.000-07:00</published><updated>2010-09-20T01:30:01.467-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Tentang Guillotine oleh Albert Camus</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Orang menulis tentang hukuman mati seakan-akan mereka berbisik.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat menjelang perang 1914, seorang pembunuh yang kejahatannya sangat keji (dia membantai sebauh keluarga petani, termasuk anak-anak) dijatuhi hukuman mati di Aljier. Dia seorang buruh tani yang telah membunuh dalam suatu kegilaan haus darah, namun telah memperburuk kasusnya dengan merampok korban. Kejadian itu menimbulkan kegemparan besar. Secara umum orang berpendapat bahwa penggal leher adalah hukuman yang terlalu ringan bagi monster semacam itu. Saya telah diberitahu bahwa ini pendapat ayah saya, yang sangat tersentuh oleh pembunuhan terhapa anak-anak. Salah satu sedikit hal yang saya ketahui tentang dirinya ialah bahwa dia ingin menyaksikan eksekusi untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia bangun tidur masih dalam keadaan gelap lalu pergi ke tempat eksekusi di ujung kota di tengah banyaknya kerumunan orang. Apa yang dilihatnya pagi itu tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Ibu saya bercerita bahwa ayah bergegas pulang ke rumah, raut mukanya berubah, dan tak mau bicara; berbaring sejenak di tempat tidur, dan tiba-tiba mulai muntah. Dia baru saja menemukan realitas tersembunyi di balik kata-kata indah untuk menutupi kenyataan itu. Alih-alih berpikir tentang anak-anak yang dibantai, dia tidak dapat berpikir apa-apa kecuali tubuh yang gemetar itu yang telah dilemparkan ke atas papan untuk dipenggal lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Boleh jadi tindakan ritual itu sungguh mengerikan jika sebuah hukuman dianggap sangat pantas, pada akhirnya memberikan efek yang memuakkan. Ketika hukuman estrem hanya menimbulkan kemuakkan, bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa hukuman itu dapat menciptakan perdamaian dan ketertiban yang lebih besar di dalam masyarakat; sebagaimana seharusnya. Sungguh, tak seorang pun berani berbicara secara langsung tentang upacara itu. Para pejabat dan wartawan, yang terpaksa berbicara tentang itu dan seolah-olah menyadari aspek provokatifnya yang memalukan, telah membuat semacam bahasa ritual yang direduksi menjadi frase-frase stereotip. Karena itu, saat makan pagi, kita membaca di halaman surat kabar bahwa orang terkutuk itu “telah membayar utangnya kepada kepada masyarakat” atau dia telah “bertobat” atau “pada pukul lima pagi keadilan ditegakkan”. Para pejabat menyebut orang terkutuk itu sebagai “pihak bekepentingan” atau “pasien” atau menyebutnya dengan angka-angka. Orang menulis tentang hukuman mati seakan-akan mereka berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari fakta bahwa para penjahat itu bukan satu-satunya yang di-Guillotine di negara kita, metodenya adalah sama. Kita menyembunyikan di balik kata-kata berlapis, suatu hukum yang legitimasinya hanya dapat kita tegaskan setelah kita memeriksa hukuman itu dalam realitas. Daripada mengatakan hukuman itu sangat perlu, ada baiknya tidak usah dibicarakan. Padahal penting untuk mengatakan apa sebenarnya hukuman itu sehingga jelas apakah hukuman itu dianggap perlu atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya ketahui, saya menganggap hukum itu bukan hanya tidak berguna, tapi juga sangat merugikan, dan saya harus merekam opini saya di sini sebelum membicarakan masalah itu sendiri. Tidak seperti banyak teman sezaman saya yang terkenal, saya tidak berpikir bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang sosial. Terus terang saya malah berpikir sebaliknya. Selama bertahun-tahun saya tidak melihat apa pun dalam hukuman mati selain sebuah hukam yang tak tertahankan oleh imajinasi sekalipun dan suatu kekacauan yang malas yang dikutuk oleh akal budi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hari ini, saya punya keyakinan seperti keyakinan Koestler: hukuman mati menodai masyarakat kita dan para pendukungnya tidak dapat membelanya dengan alasan kuat. Kita semua tahu bahwa argumen besar dari mereka yang membela hukuman mati ialah nilai keteladanan dari hukuman itu. Kepala-kepala dipenggal bukan hanya untuk menghukum, tapi untuk mengintimidasi melalui contoh yang menakutkan, siapa pun yang mungkin tergoda untuk meniru tindakan orang yang bersalah. Masyarakat tidak melakukan pembalasan; masyarakat hanya ingin mencegah. Masyarakat melambaikan kepada itu di udara agar para calon pembunuh akan melihat nasibnya takut melakukannya. Tapi, sejauh ini, tidak ada bukti bahwa hukuman mati pernah membuat seorang pembunuh takut ketika dia telah membuat keputusan, sedangkan jelas bahwa hukuman itu punya efek selain mempesona ribuan penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masyarakat benar-benar percaya pada hukuman itu, masyarakat akan memamerkan kepala-kepala itu. Masyarakat akan memberikan publisitas terhadap eksekusi-eksekusi itu seperti yang biasa diberikan pada masalah-masalah nasional atau merek baru minuman. Namun, kita tahu bahwa eksekusi-eksekusi di negara kita, alih-alih dilakukan di muka umum, sekarang dilakukan di halaman-halaman penjara di depan sejumlah spesialis.  Kecil kemungkinan kita akan tahu mengapa dan sejak kapan. Ini merupakan langkah yang relatif baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksekusi publik yang terakhir yang terjadi pada 1939, memenggal kepala Weidman, pelaku sejumlah pembunuhan, yang terkenal atas kejahatan-kejahatannya. Pagi itu kerumunan massa berkumpul di Versaillers, termasuk sejumlah besar fotografer boleh mengambil gambar. Beberapa jam kemudian Paris-Soir menerbitkan satu halaman bergambar tentang peristiwa yang membangkitkan keingintahuan itu. Dengan demikian, orang baik-baik dari Paris dapat melihat instrumen berpresisi cahaya yang digunakan sang algojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak belakang dengan semua harapan, pihak penguasa dan pemerintahan menggangap publisitas yang sangat bagus itu dengan sikap sangat buruk dan memprotes bahwa pers telah mencoba memuaskan naluri sadis para pembacanya. Akibatnya, diputuskan bahwa eksekusi-eksekusi tidak lagi akan diadakan di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bintang jasa khusus harus diberikan kepada editor Paris-Soir sehingga mendorongnya berbuat lebih baik pada lain waktu. Jika hukuman itu dimaksudkan sebagai contoh, maka, bukan hanya foto-foto itu yang harus digandakan, namun mesin Guillotine-nya harus dipajang di podium di Place de la Concorde pada pukul dua siang, seluruh penduduk harus diundang, dan upacara itu harus disiarkan televisi bagi mereka yang tidak dapat hadir untuk menonton secara langsung. Hal ini harus dilakukan, atau jika tidak, mestinya tidak lagi ada pembicaraan tentang nilai keteladanan dari hukuman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanan mungkin suatu pembunuhan tersembunyi yang dilakukan pada malam hari di halaman penjara dapat menjadi contoh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya hukuman itu benar-benar menjadi pelajaran, hukuman itu harus menakutkan. Tuaut de La Bouverie, wakil rakyat pada 1791 dan pendukung eksekusi-eksekusi publik, lebih logis mengatakan di depan Majelis Nasional : “Dibutuhkan sebuah pertunjukan yang menakutkan untuk mengendalikan rakyat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;dikutip dari: hal 221-229, Refleksi Tentang Guillotine,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Camus, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perlawanan, Pemberontakan dan Kematian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Promethea (penerbit)&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-4668595184272705792?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/4668595184272705792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=4668595184272705792&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/4668595184272705792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/4668595184272705792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2010/09/refleksi-tentang-guillotine-oleh-albert.html' title='Refleksi Tentang Guillotine oleh Albert Camus'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-2673436057223511024</id><published>2007-05-30T18:36:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T16:10:44.136-07:00</updated><title type='text'>Pribumi=Kera!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/Rl4xZ2COopI/AAAAAAAAATU/IpqUoIR5rDo/s1600-h/buku_dutch-culture-overseas.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/Rl4xZ2COopI/AAAAAAAAATU/IpqUoIR5rDo/s320/buku_dutch-culture-overseas.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070544550537110162" border="0"&gt;&lt;/a&gt;Sembari menunggu dimulainya pertandingan final Champions antara AC Milan dan Liverpool, saya melanjutkan membaca buku “Dutch Culture Overseas” karya Dr. Frank Gouda. Saya menemukan keasyikan yang aneh sewaktu membaca bab 4 buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 4 ini memaparkan bagaimana orang-orang Belanda (sekaligus juga orang Eropa) membangun pemahaman ihwal siapa sebenarnya “orang-orang pribumi”. Secara ringkas, bab sepanjang 75 halaman ini menguraikan bagaimana prasangka rasial terhadap orang-orang pribumi dibangun. Dengan menelusuri artikel-artikel, catatan perjalan, guntingan berita, catatan harian, surat-surat dan novel-novel, penulisnya mencoba memaparkan betapa “rendahnya” orang-orang pribumi di mata orang-orang Eropa kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini menarik secara intelektual karena penulisnya mengkonfirmasi semua kutipan-kutipan yang ia temukan dengan teori-teori evolusi di bidang biologi, dari mulai Darwin, Ernest Haeckal, Herbert Spencer, hingga Lamarck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bab ini juga lumayan menjengkelkan karena dipenuhi kutipan-kutipan yang menceminkan “rasialisme” orang-orang Eropa di Hindia Belanda dalam bentuk dari yang paling kasar hingga yang dibungkus retorika ilmu pengetahuan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh “kekasaran rasialis” yang dibungkus dengan retorika ilmiah bisa kita temukan dari kutipan psikiater Belanda yang bekerja di Jawa pada 1920-an. Dia bilang: “Laki-laki dan perempuan Jawa dewasa masih memperlihatkan kelemahan psikologis khas anak-anak karena kaum inlanders itu masih berada pada tahap awal perkembangan evolusi mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kosa kata Dawinian, kutipan itu bisa dibaca kurang lebih begini: “Para inlanders itu masih berada pada tahap transisi sebagai kera besar yang memulai proses menjadi homo sapiens (manusia).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak juga kutipan novel PA Daum berjudul Nummer Elf (Nomer Sebelas) yang menjadi ilustrasi pandangan rasialis orang-orang Eropa yang sengak: “Siapa yang berani memanggil mahuk-mahluk ini (pribumi)? Yang matanya lebih menyerupai kera daripada orang-orang berkulit merah di (Amerika Utara) yang jinak.” (pribumi di sini bahkan disebut lebih mirip kera ketimbang orang-orang Indian di Amerika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bandingkan kutipan-kutipan itu dengan pernyataan Lamarck yang berbunyi: “Ras-ras yang lebih rendah secara psikologis lebih dekat dengan mamalia sejenis kera dan anjing daripada orang-orang Eropa yang beradab!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan Lamarck itu saya baca dari buku Richard Dawkins berjudul “Sungai Firdaus” yang diterbitkan Gramedia setahun lalu. Ketika membaca kutipan Lamarck itu beberapa bulan lalu, saya tak merasakan apa-apa. Biasa saja. Datar. Tapi, ketika saya ingat kutipan itu setelah membaca buku Frank Gouda yang memberikan konteks historis bagaimana pandangan Darwinian macam itu beroperasi di Hindia Belanda, ujung-ujungnya saya merasa sedkit jengkel juga. (Lha gimana gak jengkel, simbahku masih dianggap dekat dengan kera je? Hehehehe…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi mengerti kenapa para pejabat kolonial dulu, juga koran-koran pada awal abad 20 di Hindia Belanda, senang betul dan bahkan penuh semangat melaporkan kesaksian orang-orang yang bertemu dengan “manusia kerdil” di belantara Sumatera di sekitar Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyimpulkan, orang-orang Eropa di Hindia Belanda ternyata masih terobsesi dengan konsep “missing link” dalam teori Darwin dan bahkan sampai pada tahapan mencoba meyakini bahwa ada kemiripan yang sahih antara manusia pribumi dengan kera-kera besar yang ditemukan di belantara Sumatera dan Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan bagaimana jengkelnya perasaan para pemimpin pergerakan kalau membaca kutipan-kutipan itu. Sayangnya, satu-satunya kutipan dari pemimpin pergerakan nasional yang saya temukan pernah menyinggung-nyinggung pandangan Darwinian itu justru seperti menerima saja dan bukannya marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya ingat pernah mambaca kutipan Tjiptomangoenkoesoemo yang ada menyebut-nyebut proses evolusi itu. Dalam salah satu pidatonya di Volksraad yang (kalau saya tidakk salah) membicarakan tentang Bali, seorang Tjiptomangoenkoesoemo yang dikenal berani dan punya nyali yang tantang-menantang, pernah menyebut kemerdekaan sebagai “kondisi utama dan penting bagi proses evolusi kaum pribumi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senyum-senyum kecut gimana gitu kalau ingat kutipan Tjipto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya juga membayangkan: Lamarck juga pasti senyum-senyum penuh kemenangan kalau tahu hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Pram, saya yakin dia adem-adem saja. Sebab Pram sepertinya sudah sangat sadar hal itu. Jangan heran jika Pram menaman tokoh utama dari kuartet novel Pulau Buru dengan sebutan Minke (plesetan dari “Monkey”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku ini, DR. Frank Gouda, menyebut pilihan Pram itu sebagai kemampuan menertawakan yang canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah… walah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Durch Culture Overseas&lt;br /&gt;Penulis: DR. Frank Gouda&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Maret 2006&lt;br /&gt;Tebal: 365 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-2673436057223511024?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/2673436057223511024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=2673436057223511024&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/2673436057223511024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/2673436057223511024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/pribumikera.html' title='Pribumi=Kera!'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PA6ZZEZSCr4/Rl4xZ2COopI/AAAAAAAAATU/IpqUoIR5rDo/s72-c/buku_dutch-culture-overseas.gif' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-5710810427973772393</id><published>2007-05-30T17:47:00.000-07:00</published><updated>2007-05-30T17:47:38.026-07:00</updated><title type='text'>Harry Roesli Melawan Rezim Agelaste</title><content type='html'>Tulisan-tulisan Harry Roesli seringkali terasa sebagai sebuah simptom. Dalam kamus kedokteran, simptom merujuk pada situasi adanya perubahan atau keadaan khusus kondisi tubuh yang menunjukkan adanya suatu penyakit, semacam gejala penyakit. Gejala penyakit yang ditunjukkan tulisan-tulisan Harry Roesli adalah penyakit yang secara akut dan kronis sedang menjangkiti jiwa dan raga bangsa Indonesia, terkhusus jiwa para elit politik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang secara eksplisit dinyatakan Harry Roesli dalam esai berjudul Republik Funky (dan secara implisit selalu muncul di nyaris semua esai-esainya), elit-elit politik negeri ini sedang dijangkiti ‘penyakit cuek’. Akibat ‘penyakit cuek’ ini, elit-elit menjadi cuek dalam segala hal: cuek pada nurani, konstituen, protes-protes dan pada kesengsaraan rakyat. Anehnya, mereka tidak akan pernah cuek untuk kepentingan kelompoknya dan kepentingan dirinya sendiri. Inilah republik yang sudah, tulisnya (h. 53), “menjadi Republik Cuek, alias Republik Funky!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi demikian, rakyat tentu saja berada dalam kondisi serba salah. Diam saja tanpa menyalurkan kejengkelan dan ketidakpuasan jelas bukan pilihan yang baik karena menahan kejengkelan terus menerus bisa membikin jiwa jadi oleng. Tapi, teriak-teriak di jalanan juga tak akan membikin kondisi membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah tulisan-tulisan Harry Roesli menawarkan jalan alternatif: humor! Daripada diam terus tapi bisa membikin gila atau teriak-teriak di jalan membikin kerongkongan haus dan benjut-benjut digebuki tentara, maka humor menjadi alternatif. Dengan humor, tepatnya menertawakan ‘kobodohan dan kelucuan’ para elit, rakyat (termasuk Harry Reosli sendiri) bisa menyuarakan kejengkelan dan protes-protesnya tanpa harus bersitegang leher dengan para polisi, sekaligus juga bisa terus memertahankan (setidaknya) kesehatan jiwa di tengah kesakitan ekonomi yang terus-terusan mendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membikin posisinya dalam jagat kepenulisan negeri ini terbilang langka. Tidak banyak penulis di negeri ini yang mampu menulis dengan bobot intelektual yang tinggi tapi juga mampu memancing gelak tawa. Apa yang dilakukannya itu juga menunjukkan satu hal: tulisan yang cerdas itu tak harus membikin jidat berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggap buku Republik Funky: Asal Usul Harry Roesli sebagai milestone yang menandai ikhtiar Harry Roesli yang terus menerus mengeksplorasi potensi kejenakaan yang dimungkinkan dan disediakan oleh bahasa Indonesia. Potensi itu ia angkat dengan banyak cara. Yang paling sering dilakukannya adalah dengan plesetan-plesetan. Dari mulai pepatah, idiom, akronim hingga memelesetkan syair lagu nasional. Harry Roesli adalah masterpiece untuk perkara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga menjadi kekhasan tulisan-tulisan Harry Roesli adalah semua kejenakaan-kejenakaan itu dimunculkannya dengan menggunakan mulut atau sudut pandang rakyat jelata yang mengalami ketertindasan dalam semua hal: dari ekonomi sampai intelektual. Dengan cara itulah Harry Roesli telah menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, komitmennya yang tanpa cadang untuk terus memihak dan menyuarakan suara rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Harry Roesli juga menunjukkan dengan baik bahwa di tengah kesulitan yang makin menghimpit, rakyat jelata tak pernah kehabisan siasat untuk melakukan perlawanan. Dengan menertawakan para elit, memosisikan mereka tak ubahnya para pelawak Srimulat, rakyat sesungguhnya telah melakukan aktivitas yang secara substansial sama ‘subversifnya’ dengan kemalasan yang diperbuat para buruh pribumi yang bekerja di perkebunan kolonial atau prilaku para kawula yang kentut diam-diam ketika sedang membungkuk tiap kali para pejabat melintas. Prilaku macam itulah yang oleh James C. Scott maksudkan sebagai a hidden transcript, narasi yang berisi pelbagai aktivitas ‘perlawanan kecil-kecilan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bisa ditebak, para elit politik yang memegang supremasi itu selalu tak betah dengan siasat perlawanan kecil-kecilan ini. Mereka selalu membalas ‘perlawanan kecil-kecilan’ itu dengan strategi yang kelewat serius, seakan-akan sedang berhadapan dengan setangsi pemberontak bersenjata yaitu dengan popor bedil dan bui. Pernah kita dengar ada aktivis yang ditangkap hanya karena melakukan happening art dengan menenteng gambar Megawati yang telah diberi kumis dan cambang. Salah satu majalah ibukota bahkan dituntut karena membikin hidung Akbar Tandjung jadi panjang bak hidung Pinokio jika kedapatan berdusta. Harry Roesli sendiri pernah ‘kena batunya’ ketika secara jenaka memelesetkan lagu Garuda Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para elit politik yang tak punya selera humor dalam menanggapi ‘perlawanan sehari-hari’ yang jenaka itulah yang didakwa oleh Milan Kundera (The Art of Novel, 2002: 223) sebagai kaum agelaste (dari bahasa Yunani artinya seseorang yang tak bisa tertawa). Kaum agelaste tak pernah mampu menertawakan diri sendiri. Mereka hanya bisa menertawakan kesengsaraan orang lain. Padahal, tanpa adanya kemampuan untuk menertawakan diri, kata Kundera, tak ada kemajuan yang bisa dicapai oleh kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak pada tempatnya jika berharap kejenakaan tulisan Harry Roesli ini mampu melongsorkan sebuah rezim agelaste. Seperti sifat semua ‘perlawanan kecil-kecilan’ lainnya, tulisan-tulisan Harry Roesli tak mungkin mampu melakukan itu. Kelewat berat. Sebab menurut hemat saya, pembebasan yang lahir dari kejenakaan dan bentuk ‘perlawanan kecil-kecilan’ itu tidak merupakan pembebasan dalam pengertian fisik apalagi struktural-institusional, melainkan pembebasan di area psikologi atau kejiwaan. Semacam psikologi pembebasan. Begitu kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Judul Buku: &lt;b style=""&gt;Republik Funky: Asal Usul Harry Roesli&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis: &lt;b style=""&gt;Harry Roesli&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: &lt;b style=""&gt;Penerbit Buku KOMPAS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cetakan: &lt;b style=""&gt;I, Maret 2005&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Tebal: &lt;b style=""&gt;xx + 266 halaman&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-5710810427973772393?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/5710810427973772393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=5710810427973772393&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/5710810427973772393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/5710810427973772393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/harry-roesli-melawan-rezm-agelaste.html' title='Harry Roesli Melawan Rezim Agelaste'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-34454859247787607</id><published>2007-05-30T17:39:00.000-07:00</published><updated>2007-05-30T17:42:49.994-07:00</updated><title type='text'>Ide itu Punya Kaki</title><content type='html'>Dari sembilan buku yang baru saya koleksi, ada dua buku yang menarik minat saya: “Dutch Culture Overseas: Colonial Practice in the Netherland Indies” karangan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; height: 1em;" id="lw_1180571966_0"&gt;France&lt;/span&gt; Goude dan buku suntingan Vedi R Hadiz dan David Bourchier berjudul “Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999” yang diterbitkan Freedom Institute (selanjutnya saya tulis: buku “Pemikiran”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Pemikiran” jauh lebih menarik minat saya ketimbang yang pertama. Buku “Pemikiran” ini tidak sepenuhnya baru karena sudah terbit pada pertengahan 2006 kemarin, tetapi saya baru sempat membelinya minggu lalu dan baru membacanya semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang di-kata pengantari-i oleh Taufik Abdullah ini berisi puluhan tulisan, artikel, pidato kenegaraan, transkrip wawancara, puisi, pernyataan sikap, press release hingga dokumen kenegaraan yang dianggap memengaruhi atau bisa menggambarkan proses sejarah yang berlangsung selama periode orde baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini, kita bisa menemukan teks lengkap Supersemar, teks lengkap Petisi 50, Manifesto PRD, teks pidato dan artikel Ali Moertopo ihwal konsep massa mengambang, puisi Widji Thukul, wawancara mendiang Letjen Agus Wirahidukusumo ihwal pencabutan Komando Teritorial, pernyataan sikap alumni UGM ihwal suksesi nasional pada awal 1990-an, pidato Soeharto ihwal Pancasila, syair lagu Iwan Fals, transkrip pidato Amir Biki menjelang peristiwa Priok, deklarasi Sirnagalih yang melahirkan AJI, manifesto anti-kekerasan yang ditulis dan dibacakan Taufik Rahzen, buku putih mahasiswa ITB hingga daftar pertanyaan yang biasa diajukan intelijen Indonesia untuk mengetes seberapa “bersih lingkungan” seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu naskah paling menarik yang ada di buku ini adalah sebuah esai pendek yang ditulis anonim dan beredar di milis-milis. Esai ini berjudulnya “Seandainya Saya Manusia Merdeka”. Naskah tersebut ditulis dengan semangat dan teknik bertutur yang hampir sama dengan tulisan Ki Hajar Dewantara yang menggemparkan Hindia Belanda pada 1913: “Als Ik Nederland Was”. Jika Ki Hajar mengritik upacara mengenang pembebasan/kemerdekaan Belanda atas pendudukan Prancis, anonim yang menulis esai Seandainya Saya Manusia Merdeka mengritik upacara perayaan kemerdekaan Indonesia yang juga harus dirayakan oleh warga Timor Timur. Asumsi dasar dua tulisan itu sama: bagaimana mungkin warga terjajah merayakan hari kemerdekaan penjajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah konsep penting Orde Baru, seperti konsep Massa Mengambang hingga P4, bisa ditemukan rujukan konseptualnya dari artikel maupun pidato beberapa elit Orde Baru. Keberadaan ICMI yang cukup berpengaruh di dekade terakhir kekuasaan orde baru bisa ditemukan juga rujukan intelektualnya. Hampir semua peristiwa-peristiwa penting pada masa orde baru diwakili oleh, minimal, salah satu tulisan orang yang terlibat atau melibatkan diri, baik secara langsung maupun sekadar keterlibatan intelektual saja: dari mulai peristiwa Way Jepara, polemik amandemen UUD sebelum reformasi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan naskah itu dikumpulkan, dipilih dan disunting sedemikian rupa sehingga membentuk kolase intelektual yang bisa dibaca sebagai salah satu dokumentasi sejarah intelektual di Indonesia pada masa Orde Baru. Jika Foucoult bisa dikutip, buku “Pemikiran” ini barangkali bisa disebut sebagai salah satu naskah yang sedikit banyak bisa menggambarkan “arkeologi pengetahuan” manusia &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; height: 1em;" id="lw_1180571966_1"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mengingatkan saya pada buku “Indonesia Political Thingking: 1945-1965” suntingan Lance Castle dan Herberth Feith yang terbit pertama kali pada 1970. Bedanya, buku “Pemikiran” terkesan tidak sesistematis bukunya Lance-Feith. Kendati demikian, buku suntingan Vedi Hadiz dan Bourchier ini justru membentuk satu tali yang sinambung sedemikian rupa dengan buku suntingan Castle-Feith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku suntingan Vedi dan Bourchier yang terbit setahun silam itu secara kebetulan menghubungkan saya dengan teks-teks Soedjatmoko (Koko) yang saya baca kembali seminggu lalu. Saya menemukan kutipan menarik dari Koko: “Ide itu punya kaki!” (samar-samar saya masih ingat beberapa tahun yang lalu saya juga pernah membaca kutipan itu dari salah satu Catatan Pinggir-nya GM yang bukan Gus Muh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Pemikiran” sedikit membantu saya membayangkan bagaimana “ide itu punya kaki”. Dan dengan caranya yang masih sedikit samar-samar, buku “Pemikiran” secara spesifik bisa membantu saya mengetahui bagaimana “ide-ide” yang dilansir sepanjang periode 1995-1999 secara langsung atau tidak ikut membentuk arus sejarah yang berlangsung sepanjang periode Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dengan cara pembacaan terbalik, buku  ini juga bisa sedikit banyak menggambarkan bagaimana peristiwa-peristiwa sejarah memengaruhi pikiran manusia &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; height: 1em;" id="lw_1180571966_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Lewat sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada periode orde baru itulah, sejumlah manusia (baca: intelektual) &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" id="lw_1180571966_3"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; kemudian memberikan respons intelektualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, buku ini bisa sedikit membantu kita memetakan seperti apa relasi antara “ide” dengan “kenyataan” (baca: sejarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999&lt;br /&gt;Penyunting: Vedi R Hadiz dan David Bourchier&lt;br /&gt;Penerbit: Freedom Institute, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2007&lt;br /&gt;Tebal: 317 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-34454859247787607?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/34454859247787607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=34454859247787607&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/34454859247787607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/34454859247787607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/ide-itu-punya-kaki.html' title='Ide itu Punya Kaki'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-2866452283199778805</id><published>2007-04-30T16:30:00.000-07:00</published><updated>2007-05-30T17:45:27.258-07:00</updated><title type='text'>Di Gardu Kita Berjaga</title><content type='html'>Setiap orang punya ingatan dan kenangan ihwal gardu, termasuk seorang Ketua RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, seorang Ketua RT yang baru terpilih merayakan kemenangannya dengan mendirikan sebuah gardu baru, tak peduli kalau RT yang dipimpinnya sudah punya lebih dari satu gardu. Seperti yang dilaporkan Abidin Kusno, penulis buku ini, seorang warga RT yang ia wawancarai sampai berkomentar: “Dengan gardu itulah pak RT akan diingat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar ringan warga tersebut bisa menjadi pintu masuk dalam membahas buku Gardu: Penjaga Memori di Perkotaan Jawa karya Abidin Kusno, peneliti di Unversity of Britisih Colombia ini. Bukan hanya warga tersebut saja yang akan mengingat pak RT-nya melalui gardu, kita juga ternyata bisa mengingat banyak hal lewat gardu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lacakan Abidin Kusno, gardu muncul sebagai dampak dari pembangunan jalan raya pos (Postweg) yang merentang dari Anyer di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa. Jalan yang dibangun untuk memermudah transportasi (baik untuk keperluan pengiriman barang hingga pos) dari Batavia ke belahan timur dan barat Jawa itu dilengkapi dengan pendopo-pendopo yang dibangun sebagai tempat istirah dan tempat mengganti kuda. Pendopo inilah yang menjadi cikal dari gardu seperti yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendopo di sepanjang Postweg, baik dari segi peristilahan maupun bentuk fisiknya, tentu saja bukan barang baru bagi orang-orang Jawa. Pada masa itu, pendopo dengan mudah dijumpai di bagian depan kediaman para bangsawan, termasuk juga di kraton-kraton Jawa. Dalam struktur kesadaran orang Jawa, pendopo menjadi zona pertemuan antara “ruang privat” (omah/rumah) dengan “ruang terbuka” (istilah “ruang publik” akan asing bagi orang Jawa ketika itu karena semua tanah dianggap milik para raja). Pendopo menjadi garis demarkasi antara penguasa (pemilik rumah) dengan wilayah luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tak hanya menjadi garis demarkasi, pendopo seperti bisa kita jumpai di Kraton-kraton Jawa, menyembunyikan para sultan dan bangsawan dari penglihatan publik. Pendopo menjadi “situs arkeologi” di mana kekuasaan para raja dengan sengaja dipamerkan kemegahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gardu juga menjadi referensi historis ihwal bagaimana transformasi kesadaran orang Jawa terhadap apa yang disebut ruang. Sebelum diberlakukannya sistem tanam paksa, orang Jawa tak pernah mengenal batas-batas yang definitif dari desa atau pedukuhan. Setelah era tanam paksa, terlebih usai diberlakukannya Agrarisch Wet (Undang-undang Agraria) pada 1870, pemerintah kolonial mulai memetakan wilayah di Jawa sekaligus menetapkan batas-batas yang definitif dari tiap-tiap desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sanalah gardu masuk ke dalam kesadaran orang Jawa, bukan semata sebagai tempat tetirah di pinggir jalan, tetapi menjadi bagian integral dari kesadaran mereka ihwal ruang. Menyusul penetapan batas-batas wilayah, demarkasi antara “wilayah kami” dan “wilayah mereka” pun menjadi konkrit. Dan agar batas-batas itu terjaga, didirikanlah gardu-gardu jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa revolusi, gardu menjadi bagian tak terpisahkan dari perlawanan revolusioner para pemuda kita yang tergabung dalam badan-badan ketentaraan, baik tentara reguler maupun milisi. Gardu menjadi pos tempat mereka menjaga wilayah-wilayah tertentu, terkadang hingga di pelosok-pelosok desa, kendati tidak jarang penduduk desa sendiri merasa jirih pada para pemuda revousioner yang penuh semangat namun brangasan dan kerap tak terkendali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Orde Lama, gardu dimaksimalkan secara simbolik dan fungsional sebagai tempat memobilisir semangat revolusi (pinjam kata-kata Soekarno) “belum selesai”. Dari gardu-gardu itulah, para warga bersama-sama mendengarkan orasi Soekarno ihwal arti pentingnya “mengganjang Malaysia dan antek-antek Nekolim” serta perlunya memobilisasi semua kekuatan revolusioner untuk merebut Irian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kekuasaan berganti, Orde Lama justru menggunakan gardu sebagai pos pertahanan dan pembasmian agen-agen revolusioner yang radikal. Lewat ide pertahanan sipil (hansip), gardu dengan segera memunyai nama baru: Pos Hansip. Kampanye pentingnya “bersih lingkungan” (bebas dari pengaruh komunis dan kaum ekstrimis kiri) digerakkan lewat gardu-gardu yang banyak di antaranya didirikan lewat bantuan pemerintah. Pos Hansip kemudian menjadi semacam kantor intelijen tingkat RT/RW yang selalu siap mengawasi keluar masuknya orang-orang tak dikenal, apalagi orang-orang asing yang menginap selama lebih dari 1 X 24 jam tanpa melapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi tempat menggalang solidaritas para simpatisan Megawati (yang kemudian dikuti oleh partai-partai lain), pada masa reformasi gardu justru menjadi penanda penting ihwal tiadanya keamanan di perkotaan. Penghancuran toko dan tempat usaha etnis Tionghoa memunculkan gardu-gardu baru yang sepenuhnya digunakan untuk mengamankan lingkungan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang, sebuah rumah mewah masih merasa perlu mendirikan gardu di halaman rumahnya. Bagi orang-orang kaya, gazebo perlu didirikan tak semata sebagai tempat para satpam bisa mengaso, tapi juga untuk menegaskan kemewahan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gardu akhirnya menjadi situs di mana pelbagai “kekuatan” berinteraksi, saling bersinggungan, saling memberi pengaruh. Pengertian dan persepsi ihwal gardu dibentuk pelbagai aktor dan konteks. Belanda, etnis Tionghoa, para pemuda revolusi, Soekarno, Soeharto, Megawati, lelaki di desa, hinga para developer real estate, ikut menganyam arti dan posisi gardu dalam struktur kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiap-tiap dari kita, akhirnya, juga punya persepsi yang berbeda ihwal gardu. Bagi para bangsawan dulu atau orang-orang kaya sekarang, gardu menjadi arena pamer kemegahan dan kekuasaan, seperti bagi pak RT yang berharap gardu yang dibangunnya bisa menjadi museum tempat warga bisa mengenang dirinya. Bagi warga Tionghoa, gardu menjadi pemantik traumatik atas pelbagai kerusuhan dan penjarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi laki-laki di Jawa, gardu menjadi tempat nyaman untuk minum kopi, ngobrol, nonton bola dan menggodai para perempuan yang lewat. Sementara bagi perempuan, gardu justru menjadi tapal batas ihwal penyingkiran mereka dari ruang publik. Bagi para pendukung Megawati, gardu menjadi altar pemujaan seorang Soekarno. Bagi para tentara yang menjadi Babinsa (Badan Pembina Desa), gardu menjadi tengara ihwal masih keliarnya ancaman komunis dan orang-orang radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di atas semua itu, gardu pada akhirnya menjadi tetenger paling pas dari gagasan ihwal dunia sebagai tempat berbahaya, tempat di mana kejahatan melela di mana saja, siap mengancam kapan saja. Karena itulah kita beramai-ramai mendirikan gardu. Di sanalah, di gardu itu, kita berjaga. Dan di gardu yang mewah pulalah, orang-orang kaya memproklamirkan kemewahan dan kejayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Gardu: Penjaga Memori di Perkotaan Jawa&lt;br /&gt;Judul Asli: Guardian of Memories: Gardu in Urban Java&lt;br /&gt;Penulis: Abidin Kusno&lt;br /&gt;Penerjemah: Chandra Utama&lt;br /&gt;Penerbit: Ombak, Yogyakarta&lt;br /&gt;Terbitan: I, Januari 2007&lt;br /&gt;Halaman: xv + 154 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-2866452283199778805?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/2866452283199778805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=2866452283199778805&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/2866452283199778805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/2866452283199778805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/di-gardu-kita-berjaga.html' title='Di Gardu Kita Berjaga'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-1223138812092204048</id><published>2007-04-10T17:27:00.000-07:00</published><updated>2007-05-30T17:44:44.593-07:00</updated><title type='text'>Menjinakkan Idenititas</title><content type='html'>Identitas, tulis Maalouf dalam salah satu pasase yang membuka In the Name of Identity, adalah apa yang ‘mencegah’ saya menjadi identik dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘mencegah’ hadir untuk menandai aktifitas merumuskan, menentukan, atau bahkan menciptakan pengertian-pengertian dan kategori-kategori, yang dari sana garis batas antara ‘saya’ dan ‘engkau’ atau ‘kami’ dan ‘kalian’ atau ‘kita’ dan ‘mereka’ dibentangkan. Dari garis batas itulah bersemai ide-ide tentang ‘cinta’ dan ‘benci’, ‘mulia’ dan ‘hina’, ‘unggul’ dan ‘pecundang’, dan akhirnya ‘penindas’ dan ‘tertindas’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang atau kelompok yang menjadi minoritas di suatu tempat (misalnya kulit hitam di Amerikaatau Yahudi di Jerman pada masa Hitler), niscaya akan menyadari bagaimana sejarah telah membuat faksi-faksi: sejarah telah jadi ruang yang eksklusif, menunjukkan ras, menegaskan biologi, lalu mengukuhkan supremasi. Dalam lingkaran konsentris agresi itu, identitas mudah ditangkap sebagai sesuatu yang tunggal, utuh, pejal, ajek, majal dari waktu dan perubahan. Semacam gestalt. Kosa kata bahasa Indonesia mengenal kata ‘jati diri’ yang amat pas menggambarkan identitas dalam pengertian di atas: seakan-akan diri adalah sesuatu yang sejati, asli, antik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Name of Identity hadir untuk menyuarakan cara pandang yang berbeda atas identitas. Seperti Out of Place-nya Edward Said, atau Finding the Center: Two Narratives-nya V.S. Naipaul, In the Name of Identity adalah sebuah pengakuan jujur Amin Maalouf ihwal konstruksi identitas dirinya yang kompleks, puspa warna, dan juga sarat gejolak. Ia adalah seorang Kristen Maronit yang lahir dan besar di bagian selatan Arab, tepatnya Lebanon. Di negeri yang mayoritas muslim itu, ia jelas menjadi minoritas. Yang menarik adalah ia sehari-hari berbicara dengan bahasa Arab; sebuah fakta yang secara unik mengikatnya dengan mayoritas orang di sana yang memakai bahasa tersebut dalam doa-doanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu ia menyaksikan 20 mayat bergelimpang di luar apartemennya dalam Perang Saudara di Lebanon. Tapi ia tak mungkin memihak salah satu diantara faksi-faksi yang berseteru. Memihak salah satu berarti juga menyangkal anasir lain yang telah membentuk identitasnya. Maalouf akhirnya memilih menjadi seorang eksil dengan pergi dan hidup di Prancis. Lengkap sudah identitas dan riwayat hidupnya yang puspa warna dan kompleks itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menulis In the Name of Identiy, Maalouf ingin menunjukkan betapa sikap dan pendirian yang lapang menerima keragaman identitas akan menjadi suluh yang mampu merekatkan pelbagai komunitas dan budaya. Inilah modus yang dianggapnya bisa ‘menjinakkan’ potensi merusak identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara globalisasi, misalnya, sikap Maalouf moderat. Salah satu efek dari globalisasi adalah memiuhnya batas-batas, baik geografis, waktu hingga acuan tata nilai. Baginya, inilah saatnya untuk menghayati ‘afiliasi ganda’: mengidentifikasi diri pada tanah kelahiran (berikut bahasa, adat dan tata nilai) sekaligus terbuka untuk menerima kondisi hari ini berikut pengaruh yang dimunculkannya pada masing-masing individu atau kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afiliasi ganda ini berarti (1) menyadari bahwa identitas kita bukan cuma diturunkan secara vertikal dari para moyang (warisan vertikal), melainkan juga dibentuk oleh pengaruh yang datang dari samping (warisan horizontal); sekaligus (2) memahami kalau anasir yang memengaruhi dan membentuk identitas itu juga beragam, tidak tunggal: bisa agama, bahasa, ras, istiadat, jenis kelamin, hingga afiliasi parpol. Kerap terjadi, semuanya itu bercampur baur membentuk sebuah kolase identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghayatan identitas dengan cara demikian membawa kita pada model (pinjam konsepnya Mikhail Bakhtin) ‘eksotopi’: ketika kita menyadari posisi kita sebagai pewaris sebuah generasi atau kebudayaan, kita menerima integritas warisan itu, seraya membubuhinya secara aktif dengan suplemen baru yang, sengaja atau tidak, akan memunculkan dialog yang melanjutkan kreativitas. Dialog yang tak pernah susut antara warisan vertikal dan pengaruh horizontal. Semuanya dibentuk dan berubah sepanjang waktu. Dan dengan itulah kebudayaan berkembang, saling memengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara cemerlang, Maalouf lantas menarik persoalan terbentuknya identitas ini ke area di mana penghayatan atas satu identitas bisa berubah dan bermacam-macam hasilnya. Maalouf banyak menyajikan contoh tentang itu. Jika pada tahun 1980-an, misalnya, kita menanyai seorang warga Republik Federal Bosnia, ia mungkin akan menjawab: Saya seorang Yugoslavia. Tapi jika orang yang sama ditanyai pada tahun 1990-an yang berdarah oleh konflik antara Bosnia dan Serbia, ia pasti akan menjawab: Saya seorang muslim Bosnia. Ini tamsil tentang berubahnya penghayatan atas identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir sebagai perempuan di Oslo, misalnya, bisa jadi bukan persoalan penting. Tapi bagi seorang perempuan yang punya cita-cita tinggi, terlahir di Kabul yang dikuasai Taliban jelas menjadi persoalan. Bagi orang kulit hitam di Amerika, warna kulit bisa menjadi persoalan mendasar. Tapi bagi yang lahir di Kongo, warna kulit tidak relevan karena yang penting adalah ‘saya orang Hutu atau Tutsi’. Di Ambon, menjadi muslim atau Kristen mungkin masih menjadi persoalan penting. Tapi antara Turki dan suku Kurdi, identitas sebagai sesama muslim tak membikin konflik keduanya menjadi kurang berdarah. Persoalan ini bisa ditarik hingga ke area yang lebih luas: gembrot atau langsing, seorang republikan atau demokrat di Amerika, hingga antara fans klub Barcelona atau Madridista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian adanya, tanya Maalouf (h. 159), untuk apa mengangkat salah satu (dari sekian banyak) anasir yang membentuk identitas kita ke status yang lebih tinggi, dan menjadikannya sebagai instrumen pengucilan dan kadang sebagai senjata perang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangkap jati (kesejatian dan keaslian) diri, akhirnya bisa jadi seperti ‘mencari garam di lautan’: ada di mana-mana tapi tak bisa dicacah lewat sebuah klasifikasi yang hitam-putih. Itulah sebabnya, James Baldwin dalam Notes of Native Soon (1984), pernah secara cerdas berujar jika ingin menyentuh identitas diri yang sesungguhnya, maka identitas justru harus dikenakan secara longgar. Bukankah jika pakaian dikenakan secara longgar kita bisa leluasa menyentuh bagian tubuh manapun yang kita inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah, dunia sekarang ini disesaki oleh bertebarannya ‘komunitas dan individu yang terluka’. Bagaimana seorang Sunni fanatik di Irak menyaksikan negerinya dibombardir Amerika atau seorang harus melewati pemeriksaan berlapis di bandara New York hanya karena ia berjenggot dan bergamis adalah sebuah kenyataan yang tak mudah dijinakkan oleh suara teduh Maalouf. Dunia telah menjadi, pinjam kata-kata Akbar S. Ahmed (2004), sebuah panggung ‘pasca-harkat’; situasi di mana harkat kelompok/komunitas dihayati dan diamalkan secara keras akibat kekalahan dan penghinaan yang datang bertubi-tubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak diimbangi oleh keterbukaan yang juga tulus dari kelompok mayoritas yang memegang supremasi, maka seruan agar setiap orang menghayati identitasnya secara terbuka hanya akan dianggap sebagai tawaran untuk tunduk dan menyerah kalah. Di tengah banyaknya pertikaian yang mematikan, In the Name of Identity mungkin adalah sebuah suara waras yang langka. Tapi, ia juga bisa sia-sia dan tak  berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: In The Name of Identity&lt;br /&gt;Penulis: Amin Maalouf&lt;br /&gt;Penerjemah: Rony Agustinus&lt;br /&gt;Penerbit: Resist Book, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Desember 2004&lt;br /&gt;Tebal: 180 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-1223138812092204048?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/1223138812092204048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=1223138812092204048&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/1223138812092204048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/1223138812092204048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/menjinakkan-idenititas.html' title='Menjinakkan Idenititas'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-7918635103053112174</id><published>2007-03-30T17:02:00.000-07:00</published><updated>2007-05-30T17:46:23.180-07:00</updated><title type='text'>Apologia di Athena</title><content type='html'>Athena adalah panggung di mana buhul peradaban dan kebudayaan Eropa bisa dilacak jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota inilah, Herodotus memulai tradisi historiografi. Di kota ini, Sophocles dan Aristophanes menuliskan naskah-naskah drama yang hingga kini masih dipentaskan di mana-mana, dari Broadway hingga komunitas teater jalanan di Malioboro. Di kota ini pula, para pemahat, perupa dan arsitek bahu membahu membangun Parthenon yang agung dan kuil Delphi yang magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini pulalah, 2406 tahun sebelum Steven Gerard dan Paolo Maldini memimpin anak buahnya mengelar pertarungan yang mungkin akan sedramatis seperti final 2005, Socrates sudah lebih dulu mementaskan sekaligus mengakhiri hidupnya yang unik dengan dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pada satu hari di tahun 399 SM, Socrates maju ke depan pengadilan Athena. Dia tahu dia akan (di)kalah(kan). Tapi harga diri dan terutama prinsip filsafat yang dipeluknya hanya memberinya satu pilihan: maju ke depan pengadilan berhadapan muka dengan muka para penuntutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Socrates mesti berhadapan dengan Meletos, Anythos serta Lycon. Tiga orang ini bukan siapa-siapa dibandingkan Socrates. Tetapi, tiga orang ini mustahil dikalahkan karena ketiganya mewakili tiga kelompok sosial yang paling berpengaruh di Athena pada saat itu. Meletos mewakili para penyair, Anythos mewakili para seniman dan negarawan dan Lycon mewakili musuh besar Socrates: kaum sofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pengadilan yang dihadiri, setidaknya, duapertiga warga Athena, Socrates menyampaikan tiga buah pidato. Pada pagi hari, Socrates membacakan pledoi. Siang harinya, usai pemungutan suara yang memutuskan hukuman mati (280 suara meghukum Socrates dan 220 suara membebaskan) Socrates maju kembali menyampaikan pidato dan diijinkan meminta pengampunan atau alternatif hukuman. Dan sore harinya, setelah pemungutan suara yang kedua menolak alternatif hukuman yang diajukan Socrates, Socrates kembali maju menyampaikan pidato perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga buah pidato Socrates, yang ditulis ulang oleh Plato menjadi buku Apologia itu, bagi saya, adalah salah satu rujukan intelektual paling tua dan sempurna atas apa yang disebut John Dewey sebagai konsepsi the art of principle (Bung Hatta menyebutnya sebagai “etik Socratik”). Etik Socratik merupakan anti-tesis dari rumusan Otto van Bismarck yang mengartikan politik sebagai “seni mencapai tujuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyebut Apologia sebagai rujukan atas konsepsi the art of principle karena tiga buah pidato di hari terakhir Socrates itu sebagai contoh teoritis sekaligus praksis dari laku memertahankan prinsip-prinsip secara lugas, benderang, tanpa tedeng aling-aling dan nyaris keras kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan beberapa kaum sofis yang diadili, yang menyampaikan pledoi seperti anak SD sedang berdeklamasi, penuh dengan kalimat yang mengharu-biru, kadang dengan rengekan, dengan gerak tangan dan mimik yang dramatik, terkadang dengan tetesan air mata, Socrates menyampaikan semua pembelaan dirinya dengan kalimat yang terus terang, menyebut nama lawannya tanpa inisial, menghantam lawannya (terutama Meletos) dengan lugas, dengan tanpa rasa takut sekaligus tanpa kehilangan sedikitpun cira rasa kerendah-hatian dirinya yang sudah dikenal di delapan penjuru Athena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates menolak tawaran alternatif hukuman berimigrasi ke luar kota. Socrates memang mengajukan alternatif hukuman berupa denda sebesar 1 Mina. Tetapi karena Denda 1 Mina yang diajukan Socrates murahnya gak ketulungan, maka alternatif hukuman ini lebih mirip satire. Socrates sendiri menolak tawaran bantuan 30 Mina yang ditawarkan para muridnya, antara lain Plato, Crito, Critobolus dan Apollodoros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika drama Antigone karya Sophocles bisa disebut sebagai puncak warisan seni drama kebudayaan Athena, Apologia sebagai epilog kehidupan Socrates adalah versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena dalam kehidupan nyata dan bukan semata di panggung Parthenon yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membedakan Socrates dengan Aristoteles, yang setelah kematian muridnya, Alexander the Great, juga diadili secara tak adil oleh musuh-musuh politik Alexander. Jika Socrates memilih tetap dihukum mati dan dengan demikian menyempurnakan Apologia sebagai rujukan intelektual sekaligus praksis dari the art of principle, Aristoteles lebih memilih untuk menyingkir ke luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dengan Socrates bisa kita temukan pada sosok Thomas More, penulis buku klasik Utopia, yang memilih hukuman mati ketimbang mengesahkan pernikahan Raja Edward yang melanggar prinsip gereja Katolik Roma (Sila tonton film Man for All Season yang mengharukan itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etik Socratik, sekali lagi, adalah anti-tesis dari rumusan Bismarck ihwal politik sebagai “seni mencapai tujuan” (baca: kemenangan). Dalam rumusan itu, politik dimengerti tidak hanya sebagai eufemisme (penghalusan) dari peperangan, tetapi sebagai laku di mana tujuan akan menihilkan segala macam debat ihwal etika. Semua boleh asal tujuan terpenuhi. Segalanya halal sepanjang ada jaminan tujuan bisa direngkuh. Apakah itu dengan lobi-lobi di bawah meja, pertemuan tertutup di hotel-hotel, hingga transfer fulus ke rekening lawan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ketika hidup tak lebih dari berhimpun deadline yang siap mengerkah jika tak ditaati, ketika politik tak lebih dari deklamasi dan tetek bengek pidato menjemukan kaum Sofis di Athena dulu, Socrates kita ingat tak lebih seperti barang antik di museum yang kita kunjungi saat hari libur anak sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Apologia&lt;br /&gt;Penulis: Socrates featuring Plato&lt;br /&gt;Penerjemah: Fuad Hasan&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Jaya&lt;br /&gt;Terbitan: I, 1982&lt;br /&gt;Halaman: 120 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-7918635103053112174?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/7918635103053112174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=7918635103053112174&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/7918635103053112174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/7918635103053112174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/apologia-di-athena.html' title='Apologia di Athena'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-5895850865234304387</id><published>2007-03-15T17:08:00.000-07:00</published><updated>2007-05-30T17:46:48.539-07:00</updated><title type='text'>Bukan David yang Melawan Goliath</title><content type='html'>David” adalah novel perdana seorang pengarang muda. Membaca novel ini membuat saya mudah menebak kalau pengarangnya, AN Ismanto, adalah seorang yang tekun membaca banyak karya sastra, baik lokal maupun asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di helai-helai halaman novel ini akan ditemukan sejumlah fragmen yang tak bisa disebut kacangan. Misalnya ketika si tokoh utama, David, sedang melakukan monolog interior ihwal beda antara manusia dan pepohonan (h. 5-6). Atau saat tokoh yang sama melakukan –lagi-lagi- monolog interior tentang manusia pertama (Adam) dan manusia kedua (entah siapa namanya) serta kemungkinan kalau dirinya adalah titisan dari manusia kedua yang diusir dari surga karena memakan buah khuldi bukan karena godaan dari iblis yang menyaru ular, melainkan semata karena pilihan bebasnya (hal 67-72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukan berarti novel ini tak punya nila. Dalam hal-hal tertentu, nila yang menguar dari novel ini justru muncul dalam hal krusial yang sedari awal direncanakan menjadi kekuatan novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“David” tampak benar diniatkan sebagai novel yang menjadi panggung di mana minat (mungkin juga obsesi) pengarangnya dalam menampilkan karakter dan karakterisasi digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini mengisahkan dunia batin sejumlah pribadi, dari mulai David yang jadi tokoh utama, kemudian Alfa, Mega, juga Guli. Saya menyebut “dunia batin” karena sekujur novel ini memang memaparkan dan mengisahkan “dunia batin” tokoh-tokohnya, lengkap dengan mimpi-mimpinya, cita-citanya, hingga dilema dan ketegangan esksitensial yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menyebut “dunia batin” karena kebanyakan gejolak eksistensial yang dihadapi kebanyakan diakibatkan pikiran-pikiran mereka sendiri. Sehingga seringkali terjadi seorang tokoh bisa bingung, kalut, atau gembira hanya karena mendadak ada pijar cahaya di ufuk timur saat fajar mulai mengembang, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter-karakter novel ini bukan karakter yang mudah dijumpai dalam keseharian. Semuanya unik. Tak biasa. Saya membayangkan, apa jadinya kalau orang-orang tersebut nyata ada dan sempat berkumpul bersama. Mungkin peserawungan mereka mirip perjumpaan orang-orang di Academia Plato di Yunani baheula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja itu bukan hal tabu. Salah satu kelebihan novel ketimbang puisi, cerpen atau naskah drama justru terletak pada keluasan dan keleluasaan yang dipunyai pengarang untuk menghamparkan karakter lengkap dengan karakterisasinya yang kompleks, menghadapi banyak dilema dan paradoks serta tidak hitam-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel dengan corak psikologis yang kental memang biasanya akan mengambil titik pusat perkisahan pada karakter-karakter, tepatnya dunia batin. Dialog, pemeriaan alam atau tampilan suasana dibangun untuk memerjelas dinamika dunia batin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil memilih tipe-tipe karakter yang unik yang ditopang oleh teknik dialog yang cukup variatif, novel ini sayangnya justru kurang berhasil meyakinkan pembaca bahwa karakter-karakter itu memang punya penjelasan yang cukup memuaskan ditilik dari logika novel realis-psikologis yang menjadi genre novel ini. Karakter-karakter di novel ini seperti hadir begitu saja, seakan dari suatu kekosongan sejarah. Tak terlalu mengherankan jika pilihan-pilihan yang diambil tiap kali para tokohnya menghadapi dilema seringkali terjadi begitu saja dengan ringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati ada sedikit celah ketika tak jelas kenapa Alfa yang merupakan anak baik semasa kecil dan sekolah mendadak menjadi pemabuk dan penjudi ketika sedang merantau dan menjadi kuli di sebuah kota besar, pengarang (hanya) relatif berhasil menghadirkan Alfa yang gejolak batinnya hadir secara alamiah dan wajar. Di luar Alfa, termasuk sosok David, tokoh-tokoh itu punya kesan agak dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup jelas pula kenapa David digambarkan sebagai lelaki dengan badai dan masa lalu yang mengeram dengan buas di tubuhnya. Guli pun mendadak bisa mengetahui rahasia Mega yang hidup free sex (termasuk dengan Pak Joko), padahal sebelumnyaGuli sama sekali tak paham kenapa Mega dan Joko saling menatap dengan aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak mendapatkan penjelasan kenapa David memilih untuk tinggal di sebuah rumah yang terpencil dan terpisah dari keramaian. Tapi anehnya, tanpa sebuah renungan yang panjang sofistikatif seperti biasanya, David bisa dengan entengnya menerima undangan minum teh di rumah Alfa dan tentu saja berarti membuka cangkang isolasi si David yang sedari awal dengan susah payah dibangun pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba untuk mencari penjelasannya pada “spontanitas”. Mungkin pengarang ingin menyampaikan betapa spontanitas bisa lebih menguasai/memengaruhi pilihan yang diambil manusia ketimbang penjelasan kausalitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi argumen itu bisa patah mengingat sedari awal tampak jelas bahwa pengarang sedang menyiapkan tokoh-tokoh yang hobi melakukan sofistikasi, yang bahkan hanya karena soal pijar cahaya, duri ikan nila atau pintu rumah yang selalu tertutup, misalnya, bisa direnungkan begitu lama. Hal aitu bisa tampak dari banyaknya fragmen tentang perang kekuatan mata antar tokoh dan yang kalah dalam pertarungan mata akan kehilangan kekuatan, lengkap dengan sofistikasi si tokoh yang kalah dari perang kekuatan mata itu terhadap kekalahannya (sesuatu yang sedikit banyak mengingatkan saya pada fragmen “lubang kunci”-nya Sartre yang termasyhur itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak khawatir tokoh-tokoh di novel ini memang sudah sedari awal direncanakan dengan rigid dan mendetail oleh pengarangnya. Akhirnya tokoh-tokoh di sini pun terasa kurang daya spontanitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan novel ini makin menguatkan kesan itu. Bab yang membuka novel ini bisa dibaca seperti senarai definisi tentang waktu dan bagaimana waktu hadir menjadi monster yang menelan manusia. Sayangnya, manusia-manusia dengan deretan karakteristiknya di novel ini hadir, hidup dan pergi begitu saja; seakan-akan bukan ditelan waktu, tetapi dibuntal oleh pikiran-pikirannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sila anda bayangkan seperti apa sebuah novel yang dibuka oleh senarai definisi. Menurut hemat saya, bab 1 relatif mubazir. Jika pembaca melewatkan bab 1 dan langsung melangkah ke bab 2 pun kisah ini bisa tetap dibaca tanpa problem yang cukup berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang yang kelihatan berbakat dan punya kecakapan teknis ini sayangnya terasa terlalu berkuasa atas ceritanya sehingga (jika peristilahan Milan Kundera bisa dipakai di sini) “pengarang jadi tampak lebih cerdas dari novelnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David dan Guli di sini bukanlah David atau Goliath seperti yang kita kenal dalam kisah bangsa Yahudi melainkan hasil rekacipta yang terlalu dikontrol oleh (katakanlah) ide-ide pengarangnya tentang siapa, apa dan bagaimana mahluk bernama manusia mengarungi medan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;Judul Novel: David&lt;br /&gt;Pengarang: AN Ismanto&lt;br /&gt;Penerbit: Grafindo Litera Media, &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;&lt;br /&gt;Cetakan: I, Februari 2006&lt;br /&gt;Halaman: viii + 207 halaman&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-5895850865234304387?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/5895850865234304387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=5895850865234304387&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/5895850865234304387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/5895850865234304387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/david-adalah-novel-perdana-seorang.html' title='Bukan David yang Melawan Goliath'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-1111517941659262709</id><published>2007-02-19T17:49:00.000-08:00</published><updated>2007-05-30T17:51:00.135-07:00</updated><title type='text'>Jika Pribumi Dipaksa Merayakan Kemerdekaan Penjajahnya</title><content type='html'>Hingga tahun penerbitannya dan bertahun-tahun kemudian, brosur Seandainya Saya Orang Belanda menjadi tulisan paling tajam dan menohok kolonialisme Belanda persis di jantungnya yang pernah ditulis dan diterbitkan di Hindia-Belanda. Dan yang lebih mengejutkan, tulisan itu lahir bukan dari pena seorang Tjiptomangoenkoesoemo yang saat itu dianggap sebagai bumiputera yang paling galak terhadap pemerintah kolonial, melainkan buah pena seorang aristokrat dari Kraton Pakualaman Yogyakarta: Soewardi Soerjaningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa menjelang penerbitan brosur Seandainya Saya Orang Belanda, memang merupakan tahun yang tak ramah bagii setiap aktivisme politik para pemimpin pergerakan, terutama dikarenakan terbitnya Peraturan Pemerintah Artikel 111 yang mengekang semua aktivitas yang berbau politik. Gerik politik pra pemimpin pergerakan dan organ-organnya dianggap membahayakan, tidak hanya kepentingan para penanam modal di Hindia-Belanda, melainkan dinilai bisa mennggoyahkan pula roda pemerintahan kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu politik makin bertambah panas setelah pada Juli 1913 tersiar kabar tentang keinginan masyarakat Belanda yang tinggal dan menetap di Hindia-Belanda untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari bangsa Prancis yang semasa dipimpin Napoleon Bonaparte berhasil menduduki negeri Belanda. Yang paling kontroversial adalah permintaan agar penduduk di Hindia-Belanda secara sukarela menyumbangkan uang untuk membiayai perayaan kemerdekaan Belanda, persis pada saat mereka, rakyat Hindia-Belanda, masih sedang getir-getirnya di jajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan menentang usulan tersebut dibentuklah sebuah panitia yang dipimpin oleh Dr. Tjipto sebagai Ketua dan RM Soewardi sebagai sekretaris. Panitia itu diberi nama Komite Boemipoetra oentoek peringatan 100 Tahoen Kemerdekaan Negeri Belanda. Komite itu segera menerbitkan bulettin yang isinya berupa surat edaran agar penduduk tidka memberikan sumbangan kepada Pamong Praja yang hendak mengumpulkan dana sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah diduga, pemerintah kolonial gerah. Pemerintah akhirnya mulai melakukan tindakan-tindakan paksaanyang semakin memanaskan situasi. Tapi itu belum seberapa. Beberapa aat kemudian, persisnya pada 19 Juli 1913. Komite Boemipoetra menerbitkan bulettinnya yang kedua yang berbentuk sebuah brosur karangan RM Soewardi Soerjaningrat yang berjudul Als Ik Eens nederland Was. Pemerintah makin jengkel ketika brosur itu akhirnya diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan judul Seandainya Saya Orang Belanda. Kehebohan makin menghumbalang karena terjemahan itu memungkinkan makin banyak orang yang bisa membaca dan memhamainya secara seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Brosur Seandianya ditulis dengan bahasa yang halus dengan struktur kalimat yang sempurna betul. Brosur itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah sindiran yang tajam yang mana sindiran itu di separuh bagian di antaranya digelontorkan dengan sebuah pengandaian yang, selain cerdas, juga begitu halus. Barulah ketika sampai di seperempat akhir tulisannya, Soewardi menanggalkan semua kehalusan sindir-menyindir dan merengsek maju dengan gaya bahasa yang menjompak-jompak dan meninju langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal, pembaca akan sukar menebak mau ke mana arah tulisan Soewardi. Tetapi menginjak pada paragraf keempat, arah yang ingin disasar itu pelan-pelan mulai menyingsing. Dia menulis: “…Sebagaimana halnya orang Belanda yang nasionalis sejati mencintaii tanah airnya, saya pun mencintai tanah air sendiri, lebih dari apa yang dapat saya gambarkan dengan kata-kata. Alangkah gembiranya hati, alangkah nikmatnya dapat turut memeringati hari nasional yang demikian penting artinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sejumlah pengandaian yang jelas-jelas superlatif, Soewardi memaparkan apa yang akan ia lakukan jika dirinya merupakan seorang Belanda yang sedang merayakan kemedekaan negeri yang sungguh dicintainya setengah mati-separuh hidup itu. Ia berandai bahwa didirnya niscaya akan “berseru-seru dengan hati gembira”, “dengan tak jemu menyanyikan ‘Wilhelmus’ dan Wien Nederland Bloed’”, “akan memanjatkan do’a di gereja”, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memeasuki sepersempat halaman brosurnya, Soewardi makin tegas menunjukkan sikap. Ketegasan itu dimulai dengan sebuah parafrase yang begitu sopan dan tertata: “Saya berpendapat, kiranya kurang sopan, rasanya memalukan dan tidak layak jika kita -- dalam angan-angan saya, saya masih seorang Belanda—mengajak orang-orang pribumi turut bersorak-sorak dalam perayaan hari kemerdekaan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan pengandaian sebagai orang Belanda, Soewardi mengajak orang Belanda untuk berpikir: Tidakkah mengajak rakyat Hindia-Belanda yang terjajah untuk merayakan kemerdekaan tuannya akan membawa rakyat Hindia-Belanda membayangkan saat-saat menggembirakan hati rakyat Belanda sewaktu bebas dari kangkangan Napoleon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah nada tulisan Soewardi makin galak, kendati ia masih terus mengandaikan diri sebagai orang Belanda. Ia misalnya sudah menulis bahwa Belanda dengan demikian sudah menghina pribumi dengan mengajaknya merayakan kemerdekaan penjajahnya, dan itu diperparah dengan mengajak mereka memberikan sumbangan uang sukarela untuk biaya perayaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, masih dengan pengadaian sebagai orang Belanda, Soewardi membayangkan dirinya akan melakukan protes terhadap gagasan perayaan kemerdekaan di negeri jajahan. Ia mengandaikan dirinya akan menulis di surat-surat kabar bahwa betapa berbahanya mengadakan pesta kemerdekaan di negeri jajahan. Dalam analisinya, hal itu selain akan melukai rakyat Hindia-Belanda, pesta perayaan itu akan membikin rakyat Hindia-Belanda, dalam kata-kata Soewardi sendiri, “berbuat yang tidak-tidak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada seperempat bagian akhir tulisannya, persisnya 9 paragraf menjelang tulisannya berakhir, Soewardi menulis sebuah kalimat dengan nada seperti seorang ksatria, barangkali seperti seorang Scarlet Pimpernal dalam cerita Barones Orczy, yang baru saja membuka topengnya dan berujar: “Syukur alhamadulillah, saya bukan seorang orang Belanda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis setelah kalimat yang membelokkan tulisan Soewardi ke arah yang lebih tegas itu, Soewardi lantas menulis dengan nada bak seorang ksatria, laiknya Scarlet Pimpernal yang sedang membuka rahasia senjatanya, kalimat berbunyi: “Sekarang sebaiknya kita kesampingkan saja segala ironi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ironi” di situ, seperti sependakuannya sendiri, digunakan memang untuk menohok, menghajar, sistem kolonial dan subsistemnya yakni berupa himbauan agar rakyat Hindia-Belanda ikut dalam pesta perayaan kemerdekaan penjajahnya sekaligus secara sukarela mengumbangkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kalimat itu, nada tulisan Soewardi makin jelas. Ada dua pokok yang disampaikan Soewardi secara tegas dan lugas di akhir tulisannya yang paling legendaris itu. Pertama, penolakan tegas dan tanpa kompromi akan ide perayaan kemerdekaan Belanda di Hindia-Belanda. Kedua, tuntutan agar segera dibentuk sebuah badan perwakilan rakyat, semacam parlemen barangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Begitu terbit, brosur itu langsung mendapat sambutan luas dan hangat dari suratkabar-suratkabar. Harian de Expres pimpinan Douwes Dekker bahkan menyiarkannya secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, persisnya pada 20 Juli 1913, pemerintah kolonial mengumukan pelarangan atas brosur itu. Aparat kejaksaan lantas menyita brosur tersebut dari berbagai toko buku dan kantor-kantor surat kabar. Sedang percetakannya, de Eerste Bandoengsche Publicatiemaatschappij, digerebek, namun di sana hanya ditemukan sejumlah kecil eksemplar brosur karena sudah tersebar nyaris di kota-kota penting di antero Jawa. Soewardi sendiri, plus Tjipto, Douwes Dekker (yang bertanggungjawab atas pemuatan di de Express yang dipimpinnya) dan Abdoel Moeis (yang menerjemahkannya ke dalam bahas Melayu ditangkap dan diiinterogasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brosur itu kemudian dicatat oleh Schavitri Scherer sebagai esei paling berkesan, tajam dan provokatif yang pernah diusun sampai pada waktu penerbitannya. Pandangan-pandangan yang diungkapkannya mendahului setiap gagasan yang dikemukakan oleh cendekiawan-cendekaiwan Jawa lain yang palling sadar politik sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya ledak tulisan itu bukan semata karena nada provokatifnya melainkan juga karena implikasi-implikasi politiknya yang lebih luas, dan karena artikel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan kemudian dibagikan sebagai surat selebaran terpisah yang memungkinkan orang-orang yang tak dapat berbahasa Belanda membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bukan sekali ini muncul kritik pedas. Hanya saja, kritik itu, kendati provokatif, seringkali hanya sebagai kapandaian mengemukakan gagasan belaka dan bukan aksi pengerahana rakyat. Tetapi dengan menggunakan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda sebagai titik tekan untuk menarik massa dan lebih jauh lagi dengan menerjemahkannya ke dalam Melayu, Soewardi sedang memastikan suatu jumlah pendukung yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lewat brosur Soewardi-lah pemerintah kolonial disadarkan bahwa perlawanan sudah menemukan bentuknya yang baru dan tegas. Hanya sejak brosur Soewardi terbit sajalah pemerintah benar-benar secara sungguh-sungguh menganggap kritik-kritik sebagai sebuah ancaman berat terhadap kemantapan pemerintah kolonial. Sebelumnya, paling banter gagasan-gagasan galak itu hanya beredar di kalangan terbatas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Soewardi sendiri, yang kelak pada usia 40-an mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, brosurnya itu merupakan puncak dari sikap radikal yang dinyatakan secara tegas dan terang-terangan. Terutama setelah pembuangannya ke negeri Belanda, seperti dicatat lagi-lagi oleh Savitri Scherer, Soewardi kemudian memilih lapangan kebudayaan ketimbang aktivitas politik. Dan di lapangan itulah Soewardi mulai menoleh warisan Jawa-nya, dan meninggalkan garis radikal sewaktu ia muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya… meninggalkan garis itu lewat sebuah kepergian yang tak mungkin kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Seandainya Saya Orang Belanda&lt;br /&gt;Judul Asli: Als Ik eens Nederland Was&lt;br /&gt;Penulis: RM Soewardi Soerjaningrat&lt;br /&gt;Penerbit: Komite Boemipoetra oentoek Peringatan 100 Tahoen Kemerdekaan Belanda&lt;br /&gt;Cetakan: I, 1913&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-1111517941659262709?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/1111517941659262709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=1111517941659262709&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/1111517941659262709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/1111517941659262709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/jika-pribumi-dipaksa-merayakan.html' title='Jika Pribumi Dipaksa Merayakan Kemerdekaan Penjajahnya'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-8064817046567757020</id><published>2007-02-15T17:13:00.000-08:00</published><updated>2007-05-30T17:47:16.868-07:00</updated><title type='text'>Jika Muhammad Mampir di Monas</title><content type='html'>Coba anda bayangkan, suatu waktu Nabi Muhammad yang ditemani malaikat Jibril nangkring di pucuk Monas dan juga sampai di lokalisasi di bilangan Pasar Senen. Kira-kira apa jadinya? Buku Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen “Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin bisa memberi sebuah kesaksian sekaligus jawaban atas pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih jawabannya begini: “Sepucuk belenggu bernama sensor akan mampir di meja redaksi majalah Sastra. Tapi tak cuma mampir, sensor itu juga membawa dua biji kado yang baunya agak sengak: (1) majalah itu dibredel kejaksaan dan (2) sang pemimpin redaksinya dihukum penjara selama satu tahun dengan masa percobaan dua tahun. Dakwaannya mengerikan: menghina agama Islam dan merusak akidah umat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apa benar Muhammad dan Jibril pernah ke Jakarta dan mampir di Monas dan Pasar Senen? Tentu saja tidak. Sebab, peristiwa mampirnya Muhammad dan Jibril ke Jakarta hanya ada dalam sebuah cerpen. Cerpen “nekat” itu berjudul Langit Makin Mendung. Penulisnya bernama Kipandjikusmin. Cerpen ini diterbitkan di halaman pertama majalah Sastra edisi Agustus 1968, yang mana Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, menjadi Pemimpin Redaksinya. Akibat pemuatan cerpen itu, majalah Sastra dibredel kejaksaan dan dan H.B. Jassin sendiri divonis setahun penjara oleh pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya Kipandjikusmin? Petunjuk yang bisa menerangkan siapa dia terlampau sedikit. Ia hanya diketahui berasal dari Yogyakarta. Sejak kasus ini mencuat, ia tak muncul lagi. Entah jika ia menggunakan nama lain. Akibatnya, hingga kini Kipandjikusmin masih menjadi misteri. Jassin sendiri di pengadilan bersitegang leher untuk sekukuhnya menolak membeberkan identitas Kipandjikusmin: keteguhan sikap yang cukup jadi alasan kita untuk memberinya standing ovation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, seberapa hebat capaian literer Langit Makin Mendung? Pembaca tentu bisa menilai sendiri. Tapi pendapat Wiratmo Soekito bisa dinukilkan di sini. Mas Wir, demikian orang memanggilnya, menyebut cerpen itu dengan kalimat “…karangannya itu jelek dan merupakan kitsch.” (hal. 139). Cerpen ini memang hanya bisa mengumpulkan bahan-bahan mentah saja. Akibatnya, ia tak lebih dari sekadar guntingan-guntingan berita surat kabar yang kemudian disulam menjadi sebuah (pinjam frase-nya Bur Rusuanto) fucilleton editorial yang berpretensi literer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang bukan capaian literer yang membikinnya heboh. Kehebohannya lebih mirip kehebohan novel The Satanic Verses-nya Salman Rushdie. Banyak yang bilang, karya Rushdie Midnight Children jauh lebih mentereng untuk soal capaian literer. Tapi The Satanic Verses heboh mula-mula memang bukan karena kualitasnya, tapi karena tema dan alur ceritanya yang dinilai menghina Islam, Muhammad dan al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit Makin Mendung berkisah tentang Nabi Muhammad yang turun kembali ke bumi. Muhammad diijinkan turun oleh Tuhan setelah memberi argumen bahwa hal itu merupakan keperluan mendesak untuk mencari sebab kenapa akhir-akhir ini manusia lebih banyak yang dijebloskan ke neraka. Upacara pelepasan pun diadakan di sebuah lapangan terbang. Nabi Adam yang dianggap sebagai pinisepuh swargaloka didapuk memberi pidato pelepasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menunggangi buraq dan didampingi Jibril, meluncurlah Muhammad. Di angkasa biru, mereka berpapasan dengan pesawat sputnik Russia yang sedang berpatroli. Tabrakan pun tak terhindar. Sputnik hancur lebur tak keruan. Sedang Muhammad dan Jibril terpelanting ke segumpal awan yang empuk. Tak dinyana, awan empuk itu berada di langit-langit Jakarta. Untuk menghindari kemungkinan tak terduga, Muhammad dan Jibril pun menyamar sebagai elang. Dalam penyamaran itulah, Muhammad berkeliling dan mengawasi tingkah polah manusia Jakarta dengan bertengger di pucuk Monas (yang dalam cerpen itu disebut “puncak menara emas bikinan pabrik Jepang”) dan juga di atas lokalisasi pelacuran di daerah Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat dialog antara Muhammad dan Jibril maupun lewat fragmen-fragmen yang berdiri sendiri, Kipandjikusmin memotret wajah bopeng tanah air masa itu: negeri yang meski 90 persen Muslim, tetapi justru segala macam perilaku lacur, nista, maksiat dan kejahatan tumbuh subur. Lewat cerpen ini, Kipandjikusmin menyindir elit politik Indonesia dengan cara telengas. Soekarno disebutnya sebagai “nabi palsu yang hampir mati”. Soebandrio yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri disindirnya sebagai “Durno” sekaligus “Togog”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen diakhiri dengan sebuah sindiran halus tapi pedas; sebuah sindiran yang persis menancap di ulu hati kepribadian manusia negeri ini. Begini bunyinya: “Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf serta baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan lapang dada. Hati mereka bagai mentari, betapapun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi Langit Makin Mendung betul-betul menjadi pemantik yang melahirkan “prahara sastra yang panjang dan panas”. Dikatakan “panjang” karena polemik itu berlangsung hampir selama tiga tahun, dari 1968 hingga 1970, dan melahirkan puluhan artikel di media massa. Polemik itu juga melibatkan nama-nama besar dari lintas disiplin: Taufik Ismail, A.A. Navis, Goenawan Mohammad, Wiratmo Soekito, Bur Rusuanto, Bahrum Rangkuti hingga Hamka. Polemik pun menyentuh banyak aspek. Dari perdebatan sastra, hukum, politik, agama bahkan menyentuh sentimen nasionalisme (seorang penulis Malaysia yang memihak Jassin membikin seorang penulis Indonesia merasa tersinggung dan menyebutnya sebagai tamu tak tahu diri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apa benar Kipandjikusmin sungguh-sungguh menghina Tuhan, Islam dan Nabi Muhammad? Bagi faksi yang anti, yang lantas dikukuhkan pengadilan, Langit Makin Mendung dianggap benar-benar telah menghina Islam. Faksi ini beranggapan, kebebasan mencipta tak berarti orang bebas menyiarkan pikiran dan tulisan sekenanya, lebih-lebih jika menyentuh aspek yang sudah nyata-nyata dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkeyakinan, menggambarkan nabi dan malaikat sebagai haram. Dan Kipandji dianggap telah melanggar dalil itu dengan lancang melukiskan Muhammad dan Jibril. Sekadar tambahan, dalam cerpen Langit Makin Mendung, Kipandji menyebut “Muhammad dan para nabi telah bosan tinggal di surga”. Jibril yang mengiring Muhammad juga digambarkan “kerepotan mengikuti Muhammad karena dinilai sudah terlampau renta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jassin menganggap tuduhan itu terlampau berlebihan. Langit Makin Mendung bagi Jassin tak lebih sebagai satire untuk mengkritik keburukan masyarakat. Pendapat ini didukung oleh, diantaranya, Wiratmo Soekito, A.A. Navis hingga Bur Rusuanto. Jassin menulis: “Pengarangnya hanya menggambarkan ‘ide tentang Tuhan dan Nabi’, bukannya menggambarkan Tuhan atau Nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pleidoi-nya di pengadilan, Jassin meminta agar kebenaran sastrawi dibedakan dengan kebenaran agama atau ilmu pengetahuan. Kebenaran sastrawi berporoskan imajinasi. Dan imajinasi, tulis Jassin, “lebih daripada gagasan. Ia adalah keseluruhan kombinasi dari gagasan-gagasan, perasaan-perasaan, intuisi manusia.” (hal. 111).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma memuat puluhan artikel bermutu yang jadi bagian polemik panjang ini, buku Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Ki Pandjikusmin ini juga memuat cerpen Langit Makin Mendung yang menjadi pangkal polemik plus empat cerpen Kipandji lain. Di bagian akhir buku, disertakan pleidoi Jassin di pengadilan berikut notulensi tanya jawab Jassin dengan hakim dan jaksa. Buku ini karenanya sayang untuk diabaikan. Ia adalah momento yang patut dimiliki siapapun yang intens dengan masalah kesusateraan. Ia juga penting, lebih lebih jika kita hendak merenungkan bagaimana wacana kebebasan mencipta berhadapan dengan norma-norma agama dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pada tempatnya jika tulisan ini mendukung atau menolak pembredelan dan pemenjaraan Jassin. Tidak kalah penting kiranya untuk mengkalkulasi, bisakah terjadi dialog yang jernih diantara yang mendukung dan menampik? Jawabannya bisa “ya”, bisa pula “tidak”. Tapi sejarah bisa berkisah, betapa kubu yang menampik pembredelan lebih banyak kalah untuk kemudian dinistakan. Dalam ketakutan dan kebingungannya, kubu yang kalah akhirnya banyak yang menyerah dan lantas membelenggu dirinya sendiri. Saat itulah, pembredelan dan sensor ditahbiskan sebagai hal yang pasti benar. Bisa ditebak akhirnya, kita akan sukar membedakan: sebuah pendapat itu mengganggu ketertiban ataukah mengganggu tahta seseorang/kelompok yang berkuasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, paragraf pertama tulisan Goenawan Mohammad di buku ini (hal. 166) layak kita renungkan. Begini bunyinya: “Kita percaya pada kesusastraan: dan di sini, kita hanya percaya pada kesusastraan yang menentramkan dan bukan yang menggelisahkan.” Itulah. Jadi, jangan terlampau kejut seumpama naas yang menimpa Jassin itu datang menerpa kita suatu saat kelak.&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen “Langit &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Makin Mendung” Ki  Pandjikusmin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Kipandjikusmin, H.B Jassin, Hamka, dll&lt;br /&gt;Editor: Mujib Hermani, Muhidin M. Dahlan&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Penerbit: Melibas, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;Cetakan: I, Januari 2004&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Tebal: 484 halaman &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-8064817046567757020?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/8064817046567757020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=8064817046567757020&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/8064817046567757020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/8064817046567757020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/jika-muhammad-mampir-di-monas.html' title='Jika Muhammad Mampir di Monas'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-1130504205476650406</id><published>2007-01-15T17:20:00.000-08:00</published><updated>2007-05-30T17:48:06.697-07:00</updated><title type='text'>Revolusi di Surga yang Tersisa</title><content type='html'>Kisah-kisah menakjubkan yang terpapar di memoar ini terjadi karena sebuah koinsidensi di suatu sore pada 1932 yang dingin diguyuri hujan. Ketika itu, seorang perempuan berdarah Skotlandia yang hijrah ke Amerika sedang gundah dengan dirinya sendiri. Ia pun berjalan-jalan di Hollywood Boulevard. Di depan sebuah bioskop, perempuan ini memutuskan untuk membeli karcis dan menyaksikan sebuah film berjudul, Bali: The Last Paradise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekeluarnya dari bioskop, perempuan itu seperti menemukan hidup. Hanya beberapa menit seusai film itu kelar ditonton, ia sudah punya keputusan bulat: pergi dan menetap di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan berselang, dengan mengendarai mobil yang dibelinya di Batavia, ia tiba di Surga Terakhir yang diimpikannya. Ia bersumpah baru akan turun dari mobil hanay ketika mobilnya kehabisan bensin. Dan di sanalah ia berjanji aman tinggal. Mobilnya berhenti persis di depan sebuah istana raja yang ia sangka sebuah pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati ia masuki istana itu. Perempuan itu akhirnya disambut oleh sang raja dan seperti sebuah dongeng, ia diangkat menjadi anaknya yang keempat. Dan ia dinamai: K’tut Tantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya Sue. Begitu pers di Singapura, Australia dan di belahan bumi lain mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julukan itu tersampir di pundaknya karena pilihan sadarnya untuk lebih memilih berjuang membantu rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan total. Di Surabaya ia dikenal sebagai penyiar dari radio yang dioperasikan para pejuang arek-arek Suroboyo pimpinan Bung Tomo. Ketika di Surabaya pecah pertempuran November yang gila-gilaan dan tak seimbang itu, ia berada di tengah para pejuang Indonesia yang sedang kerasukan semangat kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalannya dengan dunia politik sendiri dimulai oleh diskusi-diskusinya yang intens dengan Anak Agung Nura, putra tertua Raja yang mengangkatnya anak. Nura adalah pangeran Bali yang pernah mengecap pendidikan di Leiden dan Universitas Heidelberg di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jepang mendarat di Bali, ia berhasil meloloskan diri ke Surabaya. Di sana, ia mulai menjalin kontak dengan sejumlah orang yang bersimpati pada gerakan anti-Jepang. Ketika akhirnya ia tertangkap, interogasi berbulan-bulan lamanya mesti ia hadapi. Ia ditanyai soal aktivitas bawah tanahnya. Berkali-kali ia disiksa. Ia bahkan nyaris dieksekusi. Sekali waktu ia terkapar nyaris mati. Tapi ia tetap bungkam. Karena kesehatannya yang anjlok ke titik ternadir, ia pun dikirim ke rumahsakit. Di sanalah ia mendengar kabar diproklamasikannya kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas bawah tanah dan keteguhan sikap untuk tak mangap selama interogasi membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo membebaskannya. Ia diberi pilihan: kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau bergabung dengan pejuang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ktut Tantri memilih pilihan kedua. Ia dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Suaranya mengudara tiap malam. Ketenarannya membikin sebuah faksi tentara Indonesia menculiknya dan memintanya untuk siaran di radio gelap yang mereka kelola sebelum kemudian anak buah Bung Tomo berhasil membebaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu pemerintahan Indonesia pindah ke Jogja, K’tut Tantri pun pindah ke Jogja. Di sana ia bekerja pada kantor Menteri Pertahanan yang ketika itu dijabat oleh Amir Syarifuddin. Ia pernah menuliskan pidato Soekarno. Sekali waktu ia menjadi seorang agen spionasi yang berhasil menjebak sekomplotan pengkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marabahaya tentu saja melela di mana-mana. Dialah satu-satunya perempuan yang berkeliaran di jantung Jogja yang pekat oleh bau mesiu itu. Ketenaran dan pengorbanannya juga menjadi rebutan faksi-faksi politik. Sekali waktu ia pernah dibawa diam-diam oleh salah satu kelompok politik yang hendak melakukan rapat rahasia di Solo. Ktut bahkan tak sadar kalau dalam perjalannya menuju Solo ia berada satu mobil dengan Scarlet Pimpernal-nya Indonesia yang legendaris itu, Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri wartawan dan koresponden pelbagai kantor berita dan media massa luar negeri, ia dipilih olehpemerintah untuk mengisahkan bagaimana rakyat begitu bersemangat mendukung perjuangan dan betapa dustanya propaganda Belanda yang menyebutkan bahwa pemerintahan Soekarno-Hatta sama sekali tak didukung rakyatnya. Dari sanalah julukan Surabaya Sue lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaannya yang tanpa karat membuat Ktut dipilih pergi ke Singapura dan Asutralia untuk melakukan kampanye menggalang solidaritas internasional. Tanpa visa dan paspor, dengan hanya bermodal kapal tua yang dinakhodai seorang Inggris yang frustasi, Ktut berhasil lolos dari blokade kapal laut Belanda. Dari Singapura ia pergi ke Australia untuk menggalang dana, melakukan propaganda agar (rakyat) Australia memboikot Belanda. Selama di sana ia berhasil menggalang sebuah demonstrasi mahasiswa di perwakilan pemerintahan Belanda di Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjemahan Indonesia buku ini terbit pertama kali pada 1965, buku ini sudah terbit di tiga belas negara, dari mulai Amerika, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Norwegia, Swedia, Finlandia, Jepang, Spanyol, Denmark, hingga Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini meraih kesuksesan luar biasa karena pada masanya ia dianggap sebagai suara jernih yang dipercaya dapat menggambarkan tidak hanya eksotisme Bali seperti yang bisa dibaca dalam banyak roman Eropa sejak abad 18, melainkan diyakini pula sebagai bacaan yang otoritatif untuk menggambarkan bagaimana tekstur dan gestur dari jiwa Indonesia, sebuah bangsa yang baru saja merdeka bukan karena pemberian cuma-cuma penjajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit untuk tak menyebut buku ini istimewa, sesulit keinginan berniat berhenti membaca memoar ini begitu seseorang sudah membuka halaman pertamanya. Keistimewaan buku ini bukan hanya karena berisi pengalaman hidup penulisnya yang luar biasa dan nyaris nekad, tetapi juga karena buku ini disusun dengan gaya bercerita yang demikian kuat, mengalir, yang di sana-sini pembaca akan menemukan banyak momen dramatik bak sebuah suspense seperti yang biasa dijumpai dalam novel-novel berlatar perang. Karakter-karakter yang dipanggungkan pun nyaris tak ada yang sia-sia. Pembaca mana pun akan kesulitan untuk tidak ikut-ikutan membenci sosok yang dikisahkan mengkhianati perjuangan Indonesia atau menyiksa K’tut Tantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak betul kalau Ktut Tantri punya kemampuan teknis di atas rata-rata dalam berkisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati buku ini adalah sebuah memoar yang tentu saja setia dengan fakta-fakta sejarah sejauh pengamatan dan pengetahuan Ktut, tetapi memoar ini jauh dari kesan kaku. Membaca buku ini seperti membaca sebuah roman, lengkap dengan alurnya yang rapi, karakter-karakternya yang kuat dan sejumlah suspense-nya yang dramatik. Untuk ukuran Indonesia, barangkali hanya seorang Ramadhan KH lewat otobiografi Inggit Garnasih, Ku Antar ke Gerbang, yang bisa menandingi kemampuan Ktut menuliskan memoar dengan gaya roman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati banyak mengisahkan orang-orang besar (terutama Bung Tomo, Bung Karno dan Amir Syarifuddin) dan kejadian-kejadian penting yang terkenal, dengan caranya sendiri Ktut Tantri berhasil menyusun sebuah memoar yang bisa dibaca sebagai buku sejarah yang demikian lapang memberi ruang pada orang-orang kecil dan kejadian-kejadian yang tampaknya sepele tetapi sesungguhnya bisa memberi gambaran yang lebih utuh tentang jalannya perjuangan kemerdekaan yang kompleks dan penuh warna ini; sederet kejadian yang sama sekali tak tercatat dalam buku-buku babon sejarah kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memoar ini juga kaya dengan detail kejadian yang tak tercatat, dari peristiwa yang dramatis hingga yang lucu. Salah satunya adalah kejadian ketika Ktut mengikuti rapat akbar di Jawa Timur yang menghadirkan Bung Karno, Bung Hatta dan Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, Bung Karno menggelorakan peserta rapat akbar dengan orasinya yang meninju, dan Hatta memukau massa dengan ketenangannya yang nyaris seperti seorang pendeta. Ketika giliran Amir berorasi, ia tampil tak seperti biasanya. Amir yang dikenal kaku, selalu serius, tiba-tiba tampil demikian lucu dan konyol. Rakyat yang mengikuti rapat akbar itu tergelak dan terpingkal-pingkal menyaksikan polah konyol Perdana Menteri-nya. Bung Karno dan Bung Hatta heran setengah mati. Ternyata, beberapa saat sebelum berpidato, Amir diam-diam menenggak habis sebotol Johny Walker, minuman keras beralkohol tinggi, yang dibeli Ktut dan kawan-kawannya untuk pesta ulang tahun seorang kolonel. Amir mabuk berat di atas panggung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Ktut Tantri mungkin sudah tak dikenal. Namanya tak tercetak dalam satu pun buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi Ktut mungkin sendiri tak terkejut. Sewaktu di Australia, ia didatangi orang-orang Belanda yang menawarinya uang banyak asal tak membantu lagi Indonesia. Orang Belanda itu juga menyebut kalau bangsa dan orang Indonesia kelak mungkin akan melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ktut bergeming. Katanya: “Aku hanya setetes dari laut yang mengarus semakin besar menuju kebebasan. Orang Indonesia boleh saja melupakan segala sesuatu mengenai diriku. Mengapa tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ktut Tantri sudah meramalkan nasibnya yang kelak dilupakan. Sebuah ramalan yang presisi. Dan Ktut Tantri sama sekali tak menyesalinya. Ia hanya menuruti panggilan kata hatinya. Dan hatinya memang ada di Bali, tepatnya di Indonesia. “Sepotong Surga Terakhir” seperti yang dikatakan sebuah film Hollywood yang ia saksikan di sebuah sore yang dingin diguyuri hujan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-1130504205476650406?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/1130504205476650406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=1130504205476650406&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/1130504205476650406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/1130504205476650406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/revolusi-di-surga-yang-tersisa.html' title='Revolusi di Surga yang Tersisa'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2359890542627326246.post-7716024351959861296</id><published>2007-01-15T17:12:00.000-08:00</published><updated>2007-05-30T17:48:33.896-07:00</updated><title type='text'>Inspirasi dari Neraka</title><content type='html'>The Dante Club adalah novel yang memberi kita gambaran bagaimana sebiji puisi bergerak menjadi sebuah etos yang membikin sejumlah orang besar rela menghabiskan banyak waktunya demi menghidupkan “kata-kata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang The Dante Club, Mathew Pearl, menyusun novel perdananya ini berdasarkan latar belakang historis yang terjadi di Amerika Serikat pada pertengahan abad 19, persis ketika Perang Saudara yang meletihkan baru saja usai. Saat itu puisi ada di posisi yang mulia di hati dan pikiran bangsa Amerika. Para penyair menempati kelas sosial yang tinggi. Mereka menjadi selebriti yang kemunculannya selalu dinanti-nanti. Buku-buku puisi laris manis. Jurnal-jurnal kesusastraan bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Amerika adalah bangsa yang tak sepenuh hati mencintai puisi. Hal itu terlihat dari respon yang muncul terhadap penerjemahan Divina Commedia, puisi panjang karya sastrawan Italia, Dante Alighieri. Ketika Henry Wadsworth Longfellow, penyair Amerika dengan reputasi nomer wahid, sedang menerjemahkan Divina Commedia, para elit agamawan dan akademisi (terutama para guru besar sastra di Harvard) malah berupaya menghalanginya dengan segala cara. Divina Commedia dianggap tak layak menempati rak-rak buku Amerika karena dinilai sebagai karya tak bermoral, melecehkan iman Kristen, sekaligus mencerminkan dekadensi Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Longfellow sendiri, menerjemahkan karya Dante adalah kerja yang menjadikannya bersemangat menghadapi hidup. Divina Commedia adalah pelipur lara bagi Longfellow yang baru saja ditinggal mati istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Longfellow tak sendirian menerjemahkan Divina Commedia. Ia dibantu oleh empat orang karibnya yang sama-sama mencintai Dante: James Russel Lowell (penyair dan Guru Besar Harvard), Oliver Wendell Holmes (penyair dan Guru Besar Kedokteran Harvard), Washington Green (Guru Besar Sejarah) dan James T. Field (bos penerbit Ticknor&amp;amp; Fields). Lima orang ini menamakan dirinya: Klub Dante. Klub inilah yang menjadi cikal bakal dari Dante Society of America yang dideklarasikan pada 1881.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertkumpul tiap Rabu malam di The Craigie House, kediaman Longfellow yang hening. Di sana mereka berdiskusi, mengomentari dan memberi masukan terhadap draft terjemahan yang dikerjakan Longfellow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat yang bersamaan, terjadi serangkaian pembunuhan misterius yang menghebohkan seisi kota Boston. Pembunuhan itu menghebohkan bukan hanya karena menimpa sejumlah nama penting di Boston, melainkan juga karena pembunuhan dilakukan dengan teknik membunuh yang belum pernah dikenal sebelumnya. Pembunuhan dilakukan dengan demikian rapi dan nyaris tak meninggalkan jejak. Polisi sama sekali tak mampu memecahkan kasusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Longfellow dkk., rangkaian pembunuhan itu benar-benar mengejutkan. Hanya anggota Klub Dante saja yang bisa memahami: pembunuhan itu dilakukan dengan menjiplak teknik penyiksaan yang ada dalam Divina Commedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu untuk diketahui, puisi panjang Dante ini terbagi ke dalam tiga bagian Inferno (Neraka Jahanam), Purgatorio (tempat penyucian dosa) dan Paradiso (Surga). Divina Commedia sendiri adalah sebuah karya alegori-naratif yang mengisahkan perjalanan imajiner ke alam akhirat. Di bagian Paradiso, Dante mengisahkan perjalanan Beatrice, perempuan yang dalam kehidupan nyata sangat dicintai Dante, di surga. Di bagian Inferno dan Purgatorio, Dante memilih Virgil sebagai sosok yang dijadikan naratornya untuk mengisahkan dan mendeskripsikan tujuh lapis neraka, berikut detail sadis hukuman penyiksaan yang didera para penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam temuan Klub Dante, rangkaian pembunuhan yang terjadi di Boston ternyata menjiplak detail penyiksaan yang disaksikan Virgil dalam Inferno. Dan lewat sebuah penyelidikan yang intensif, diketahui betapa rangkaian pembunuhan itu ternyata selalu terjadi beberapa saat setelah mereka bertemu tiap Rabu malam untuk membahas hasil-hasil terjemahan Longfellow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klub Dante pun sadar bahwa di Boston sedang berlangsung dua proyek penerjemahan Divina Commedia: mereka menerjemahkan dengan pena dan yang lain menerjemahkannya dengan darah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dante terancam didakwa sebagai inspirator bagi rangkaian kekejian tiada tara yang terjadi di Boston. Masa depan Dante dan semua karyanya betul-betul dipertaruhkan. Oliver Holmes menuntut agar penerjemahan Divina Commedia ditangguhkan. Dia menganggap Klub Dante sedikit banyak memikul tanggungjawab atas horor yang membikin Boston menjadi tak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soliditas Klub Dante mulai goyah. Mereka terpaksa memertanyakan dan merumuskan ulang eksistensi Klub Dante. Mereka juga harus mengambil keputusan secepatnya: apakah harus aktif menemukan Sang Pembunuh dengan menghadapi resiko yang tak sepele atau membiarkan polisi Boston yang tak tahu sama sekali pengaruh Dante dalam rangkaian pembunuhan itu untuk mengungkapnya tanpa bantuan mereka. Jika pilihan terakhir yang diambil, Klub Dante harus siap jika akhirnya mereka dicurigai polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil pilihan kedua juga sama dengan membiarkan otoritas Harvard menembakkan “peluru” ke Klub Dante dan juga larya-karya Dante. Atau jangan-jangan memang otoritas Harvard sendiri yang berada di balik rangkaian pembunuhan? Kalau bukan Harvard, lantas siapa? Mungkinkah pembunuhan ini justru dilakukan oleh salah seorang anggota Klub Dante, mengingat orang-orang yang dibunuh ternyata adalah orang-orang yang terlibat dalam konspirasi Harvard untuk mencegah pengaruh Dante di Amerika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Dante Club, seperti yang tampak dalam bahasa dan dialog-dialognya, adalah novel yang latar sejarahnya diambil dari sejumlah referensi buku sejarah Amerika. Deskripsi kota Boston masa itu diambil Mathew Pearl dari peta-peta lama. Sedangkan detail sikap dan kelakuan sehari-hari para anggota Klub Dante diadaptasi terutama dari sejumlah puisi, esai, novel, dan surat-surat yang ditulis para anggota Klub Dante sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah novel detektif, The Dante Club memang tak secanggih, misalnya, The Da Vinci Code atau Angels and Demons-nya Dan Brown. Terlihat benar betapa Mathew Pearl tak semahir Brown dalam menghadirkan suspense. Tak banyak kejutan yang terpapar. Belasan halaman sebelum Sang pembunuh muncul, pembaca sudah bisa menebaknya. Kemunculan Sang Pembunuh juga jauh dari dramatis dan sama sekali tidak menghadirkan efek kejut di syaraf pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagai sebuah novel sejarah yang mencangkok banyak puisi di helai-helai halamannya, novel ini memang memesona. The Dante Club adalah novel sejarah yang unsur fiksinya berhasil membikin fakta-fakta sejarah menjadi serangkaian kisah yang hidup dan menegangkan, sekaligus berhasil membikin unsur-unsur fiksinya menjadi lebih meyakinkan karena (seakan-akan) memiliki argumen historis yang tak cuma kukuh, melainkan juga detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Mathew Pearl, Doktor bidang Sastra dari Harvard, yang tahu banyak bagaimana aktivitas para anggota Klub Dante, puisi-puisi yang bertebaran di helai-helai halaman novelnya bukan sekadar menjadi pemanis yang genit, melainkan betul-betul hidup tak ubahnya sebuah karakter, laiknya seorang tokoh manusia saja. Dalam The Dante Club, makhluk bernama puisi bergerak dengan sedemikian rupa dan menyebarkan pengaruh tak terduga ke dalam diri tokoh-tokoh novel ini. Persis seperti peran yang dimainkan puisi dalam film Dead Poets Society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;Judul Buku: &lt;i style=""&gt;The Dante Club&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengarang: &lt;i style=""&gt;Mathew Pearl&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: &lt;i style=""&gt;Agung Prihantoro&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: &lt;i style=""&gt;Q-Press, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;Cetakan: &lt;i style=""&gt;I, Agustus 2005&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tebal: &lt;i style=""&gt;615 halaman&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2359890542627326246-7716024351959861296?l=musyawarah-buku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/feeds/7716024351959861296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2359890542627326246&amp;postID=7716024351959861296&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/7716024351959861296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2359890542627326246/posts/default/7716024351959861296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://musyawarah-buku.blogspot.com/2007/05/dante-club-adalah-novel-yang-memberi.html' title='Inspirasi dari Neraka'/><author><name>zen</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
